PejuangKantoran.com - Presiden Prabowo Subianto resmi melantik Purbaya Yudhi Sadewa sebagai Menteri Keuangan (Menkeu), menggantikan Sri Mulyani Indrawati.
Namun, belum genap sehari menjabat, Purbaya langsung menuai kontroversi akibat pernyataannya yang dianggap meremehkan tuntutan publik.
Siapa sebenarnya Purbaya dan apakah ia memang sosok kontroversial?
Baca Juga: Disebut Murah dan Awet, Mengapa Chromebook Dibilang Kurang Cocok untuk Seluruh Indonesia?
Sebelum dipercaya memimpin Kementerian Keuangan, Purbaya sudah malang melintang di dunia ekonomi dan pemerintahan. Ia pernah menjabat sebagai Ketua Dewan Komisioner Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) dan mengisi sejumlah posisi strategis di pemerintahan.
Di luar pemerintahan, Purbaya juga pernah berkarir di sektor keuangan, antara lain sebagai Chief Economist Danareksa Research Institute, dan Direktur Utama PT Danareksa Securities.
Latar belakangnya yang kuat di bidang ekonomi inilah yang membuatnya dipercaya menduduki kursi Menteri Keuangan.
Pernyataan yang menuai kritik
Saat awak media bertanya apa alasan Presiden Prabowo Subianto memilih dirinya, Purbaya menduga dirinya dianggap cukup mampu di sektor ekonomi. Namun kemudian ia memberikan jawaban yang mengejutkan.
"Kan waktu sarasehan, saya peserta di sana. Mungkin kelihatannya saya cukup jago kelihatannya. Tapi (diskusi ekonomi) yang khusus enggak ada.
Baca Juga: Supaya Betah Kerja dan Tidak Mudah Resign, Pilih Budaya Kerja yang Sesuai Gaya Hidup Kamu
"Hanya beberapa kali saja diskusi ekonomi, tapi nggak baru-baru ini sekali," tutur Purbaya, saat ditemui di kantor Kemenkeu, Jakarta Pusat, Senin (8/9/2025).
Meski memiliki pengalaman panjang, pernyataan-pernyataan Purbaya selanjutnya langsung memicu kontroversi. Apalagi ketika ia menyinggung soal tuntutan “17+8 Tuntutan Rakyat” yang sedang ramai diperbincangkan, dengan nada yang dinilai menggampangkan.
"Saya belum mempelajari itu (tuntutan 17+8), tapi basically begini, itu kan suara Sebagian kecil rakyat kita. Kenapa, mungkin Sebagian ngerasa keganggu, hidupnya masih kurang, ya," ujarnya.
"Once saya ciptakan pertumbuhan ekonomi 6 persen, 7 persen, itu akan hilang dengan otomatis. Mereka akan sibuk cari kerja dan makan enak dibandingkan mendemo," sambungnya.