Pejuangkantoran.com - Seringkali kita ingin banget menyampaikan isi pikiran dengan baik, namun tak jarang peyampaian kita ada kecenderungan untuk nyinyir.
Ketika penyampaian yang cenderung nyinyir, menjadikan komunikasi tidak efektif, sehingga pesan atau informasi yang baik dan penting menjadi tak tersampaikan. Ujung-ujungnya, tujuan utamanya menjadi sulit atau tidak tercapai.
Ketika ingin menjadi seorang yang kritis, mungkin kita bisa belajar dari standar coaching ICF seperti yang dicantumkan dalam website International Coaching Federation tentang bagaimana memenuhi standard ACC.
Apa saja dari standard ICF ini yang bisa kita pakai untuk membuat pertanyaan kritis yang positif, berikut penjelasannya:
- Hindari hanya fokus pada “pokoknya harus merespon”
Sering kita menyampaikan isi pikiran dengan hanya fokus harus menjawab atau merespon pendapat atau pernyataan orang lain.
Ketika kita hanya fokus pada “keharusan” ini membuat kita menjadi defensif. Selain itu kita juga kehilangan kejernihan berpikir dan terjebak pada keinginan untuk membuktikan bahwa pendapat kita yang terbaik.
Tentu saja hal ini bisa mengaburkan kejernihan isi pendapat kita.
- Dengarkan dengan tulus, amati ekspresi dan emosi
Untuk bisa memunculkan kejernihan pikiran yang disampaikan dalam pertanyaan atau tanggapan, kamu perlu mendengarkan pendapat orang lain.
Namun, sebaiknya jangan terbatas mendengar apa yang diucapkan. Coba perhatikan ekspresi dan muatan emosi orang lain saat mereka menyampaikan pendapat.
Ekspresi yang tulus, ragu-ragu, emosional dan marah, akan memberikan konteks dari apa yang orang lain sampaikan.
- Dengarkan dengan aktif, ungkapkan dalam ringkasan
Untuk dapat membuat pertanyaan yang kritis, kita perlu memiliki informasi yang benar. Informasi ini bisa kita dapatkan dari mendengarkan lawan bicara kita dengan aktif, lalu konfirmasikan pemahaman kita pada lawan bicara.
Sampaikan pendapat lawan bicara kita dalam bentuk pernyataan ringkasan. Dengan cara ini kita bisa mendapatkan pemahaman yang benar terhadap pendapat orang lain untuk kita respon dengan baik.
Selain itu, dengan melakukan hal tersebut kita juga bisa mendapatkan respek dari lawan bicara, karena kita benar benar ingin memahami pendapatnya.
Artikel Terkait
Cara Mengatasi Rasa Takut Bertanya Saat Meeting (Tenang, Karyawan Senior pun Banyak yang Mengalami!)
56 Persen Karyawan Lebih Memilih GenAI daripada Manajer untuk Bertanya. Apa Alasannya?
10 Keterampilan Komunikasi Utama yang Harus Kamu Kuasai Supaya Komunikasimu Lebih Efektif
Kenali 4 Gaya Komunikasi Pemimpin yang Mungkin Sering Kamu Temui, Hayo... Jangan Baper Dulu!
Punya Soft Skill Komunikasi, Apakah Artinya Kamu Hanya Pintar Bicara? Ternyata Bukan Hanya Itu!
Bertanya Itu Ada Seninya! Ini 4 Trik Jitu Biar Jawaban yang Kamu Dapat Lebih Maksimal