PejuangKantoran.com - Nepal baru saja mengalami gejolak besar. Selama dua hari berturut-turut, kerusuhan mematikan mengguncang negara berpenduduk 30 juta jiwa tersebut. Pemerintah yang dituduh korup pun tumbang.
Aksi brutal aparat keamanan menewaskan setidaknya 72 orang, menghancurkan kepercayaan rakyat, terutama anak muda, terhadap sistem politik negaranya.
Bosan dengan politikus lama yang dinilai gagal, ribuan pemuda mencari cara baru untuk menentukan siapa yang akan memimpin Nepal keluar dari krisis.
Baca Juga: Fenomena “Nepo Kids” Guncang Nepal: Dari Pamer Gaya Hidup Mewah hingga Jatuhnya Perdana Menteri
Uniknya, mereka tidak menggunakan cara konvensional seperti pemilu atau rapat partai. Gen Z di Nepal memilih Perdana Menteri via Discord. Melalui aplikasi yang biasanya dipakai para gamer untuk ngobrol tersebut, jajak pendapat virtual digunakan untuk menentukan pemimpin sementara.
Dari jalanan ke dunia maya
Gerakan ini dipimpin oleh kelompok bernama Hami Nepal, komunitas Gen Z dengan lebih dari 160 ribu anggota. Mereka membuat kanal khusus bernama Youth Against Corruption, tempat ribuan orang berdiskusi soal masa depan negara. Termasuk, para diaspora Nepal di luar negeri.
Saking banyaknya yang ingin bergabung, sebagian bahkan harus menonton lewat siaran YouTube.
Dalam forum itu, peserta saling lempar pertanyaan, debat panas, sampai menghubungi calon pemimpin secara langsung.
Setelah berjam-jam diskusi, nama yang akhirnya dipilih adalah Sushila Karki, mantan Ketua Mahkamah Agung Nepal berusia 73 tahun.
Ia dikenal berani melawan korupsi dan pernah memenjarakan seorang menteri saat masih menjabat hakim. Pada Jumat, 12 September 2025, Karki resmi dilantik sebagai perdana menteri interim.
Baca Juga: 5 Kebijakan Baru BKN terkait Kenaikan Pangkat ASN, agar Karirnya Bisa Melaju Lebih Cepat!
Kenapa Discord?
Bagi para pendukungnya, cara ini jauh lebih transparan dibanding praktik lama saat partai politik memilih pemimpin di balik pintu tertutup.
Lewat Discord, siapa pun bisa bicara, mengajukan ide, atau bahkan mengkritik.
“Kami sedang belajar sambil jalan,” kata Regina Basnet, lulusan hukum berusia 25 tahun yang ikut debat.