Agus menilai Hans sebagai kandidat ideal untuk memimpin GoTo ke depan. Dalam hampir delapan tahun di Gojek, GoPay, hingga GoTo, Hans memimpin berbagai lini penting, termasuk operasional mitra pengemudi dan pengembangan GoTo Financial.
Sebelum itu, Hans berkarier di AS, Tiongkok, dan Singapura, termasuk menjadi Partner di McKinsey.
Dikaitkan dengan pembicaraan akuisisi Grab
Pengunduran diri Patrick memunculkan spekulasi bahwa langkah ini memperlancar proses diskusi akuisisi GOTO oleh Grab Holdings Ltd. Sejak awal 2025, Grab disebut mempertimbangkan akuisisi dengan valuasi lebih dari US$7 miliar.
Analis Citigroup menilai peluang merger tetap terbuka, meski prosesnya bisa berbeda dari rumor sebelumnya.
Mereka menyebut adanya potensi keterlibatan lembaga SWF Indonesia, Danantara, sebagai pemegang saham minoritas dengan hak khusus atas operasi bisnis GoTo di Indonesia.
Baca Juga: Buat yang Suka Consumer Engagement, Grab Indonesia Buka Lowongan Loyalty Marketing Associate
Namun, risiko merger gagal atau tertunda tetap ada. Analis Mirae Asset Sekuritas, Nafan Aji Gusta, mengatakan jika merger terjadi, hal itu bisa menguntungkan operasional karena menghentikan “bakar uang” yang selama ini membebani perusahaan.
Meski begitu, ia mengingatkan bahwa merger dua raksasa ini bisa membuka peluang monopoli di industri transportasi online dan e-commerce.
Rumor semakin ramai setelah laporan Bloomberg News menyebut pemegang saham mendesak agar Patrick diganti karena kinerja saham GoTo yang kurang memuaskan sejak ia menjabat.
Patrick juga disebut sebagai pihak yang tidak mendukung rencana merger dengan Grab.
Meski demikian, baik GoTo maupun Grab menegaskan bahwa isu merger tersebut hanyalah spekulasi dan tidak berdasar pada informasi resmi. ***