PejuangKantoran.com - Industri teknologi sering dianggap punya masa depan yang cerah. Tapi, ada kenyataan pahit yang jarang dibahas. Meski makin banyak perempuan yang jadi pemimpin di perusahaan teknologi, makin banyak pula yang pilih angkat kaki dari industri tersebut.
Riset terbaru dari perusahaan IT Akamai bahkan menunjukkan, hampir 90% perempuan meninggalkan karier mereka di perusahaan teknologi dalam 10 tahun setelah bergabung pertama kali.
Bahkan, lebih dari separuhnya sudah menyerah di lima tahun pertama. Di Inggris, rata-rata perempuan hanya bertahan sekitar enam tahun di dunia teknologi. Angka ini tentu bikin kita bertanya-tanya, memangnya kenapa sih?
Baca Juga: Produser Film 'Crocodile Tears' secara Khusus Membangun Rumah untuk Lokasi Utama Syuting
Mengapa mereka memutuskan resign?
Masalahnya bukan karena mereka tidak mampu secara teknis. Seringkali, alasannya justru karena lingkungan kerjanya yang tidak mendukung. Banyak perempuan merasa seperti orang asing di kantornya sendiri.
Sebanyak 50% perempuan mengaku mereka memutuskan resign karena merasa tidak punya rasa memiliki atau merasa tidak cocok dengan budaya kerja dalam male-dominated environment.
Selain itu, masalah klasik seperti sulit naik jabatan dan kurangnya fleksibilitas waktu juga menjadi penyebab utama. Tahu sendiri kan, banyak ibu bekerja yang juga masih harus mengurus rumah tangga.
Nah, ketika kantor menuntut jam kerja yang kaku banget, keseimbangan hidup jadi kacau. Akibatnya, banyak karyawan perempuan yang jadi burnout.
Namun menurut Natalie Billingham, Managing Director EMEA di Akamai, fakta tersebut menunjukkan bahwa perusahaan teknologi punya kesempatan untuk mengubah keadaan.
Baca Juga: Sadar Nggak, Cara Kita Memakai AI Justru Melatih Kecerdasan Buatan untuk Menggantikan Kita
"Dengan memberikan peluang naik jabatan, jam kerja yang fleksibel, dan gaji yang sesuai, pemimpin perusahaan bisa menciptakan lingkungan di mana perempuan bisa bertahan lama dan berkembang," ujar Billingham.
Ke mana mereka pindah?
Setelah keluar dari dunia teknologi, para perempuan ini nggak lantas berhenti bekerja. Banyak yang pindah ke sektor keuangan, menjadi guru, atau masuk ke dunia kesehatan.
Dan ternyata, sekitar 30% dari mereka mengaku jauh lebih bahagia di pekerjaan barunya. Sampai-sampai, mereka nggak berniat kembali ke industri teknologi, lho.