Meski begitu, masih ada sekitar 40% perempuan yang mau kembali ke perusahaan tekno asal syaratnya pas. Yaitu, gaji yang lebih tinggi, jenjang karier yang jelas, dan waktu kerja yang bisa dikompromikan (setidaknya hybrid atau paruh waktu).
Selain itu, mereka yang memutuskan kembali ke dunia teknologi cenderung ingin bertahan lebih lama. Syarat utamanya tetap sama, ada work-life balance. Jika perusahaan bisa memberikan itu, para perempuan ini bakal tetap bertahan.
"Melegakan sekali ya, melihat banyak perempuan bisa dibujuk untuk kembali kalau kondisinya tepat," tambah Hazel Little, CEO dari Career Returners.
Baca Juga: McDonald's Bertekad Kembali Jadi Resto Terbesar di AS setelah Subway Menutup 8.000 Gerainya
"Jenjang karier itu penting, tapi yang tak kalah penting adalah memastikan ada jalan masuk yang jelas dan dukungan bagi mereka yang ingin kembali ke sektor ini."
Hasil survei Akamai ini jadi pengingat bahwa kemajuan teknologi itu menyangkut manusia di dalamnya. Bisa menarik perempuan untuk masuk ke dunia teknologi itu saja sudah sulit, apalagi mempertahankan mereka.
Kalau sudah begini, sudah waktunya perusahaan teknologi belajar lebih inklusif. Yaitu, dengan menciptakan budaya kerja yang membuat siapa pun merasa dihargai dan punya masa depan yang jelas.
Artikel Terkait
Pendiri CNN Ted Turner Meninggal Dunia di Usia 87 Tahun
DBS Bank Buka Lowongan Kerja Associate, Reporting Specialist, Risk Management Group
4 Pengaruh Kaus Kaki yang Cukup Penting Dalam Olah Raga Lari yang Perlu Kamu Ketahui!
4 Tujuan Memakai Kaus Kaki Kompresi atau Compression Socks Saat Berlari yang Perlu Kamu Pahami
Delegasi Uni Eropa di Indonesia Buka Lowongan Kerja Sekretaris, Gaji Mulai Rp18,5 Juta
PT Krakatau Osaka Steel Tutup Juni 2026, Hampir 200 Karyawan Terkena PHK
Berapa Kali Sebaiknya Mengunyah Makanan? Ternyata Bukan Sekadar 32 Kali