news

On Cloud Mulai Libas Dominasi Nike di Pasar Sepatu Lari Premium. Siapa Pesaing Lainnya?

Jumat, 3 Juli 2026 | 10:42 WIB
On Cloud, yang mengusung Zendaya sebagai brand ambassador-nya, menggusur Nike di pasar sepatu lari premium. (On)

PejuangKantoran.com - Pasar sepatu lari seolah sudah menjadi milik Nike selama hampir empat dekade terakhir. Tapi meski Nike masih unggul dari segi pendapatan, apalagi ada peningkatan penjualan jersey sepak bola berkat ajang Piala Dunia 2026, tren pasar sekarang ini pelan-pelan mulai bergeser.

Pasar sepatu lari premium sekarang diramaikan oleh para pesaing baru seperti On dari Swiss dan Hoka. Mereka berhasil menarik perhatian konsumen berkat inovasi teknologinya, bukan cuma mengandalkan promosi dari selebriti terkenal.

Salah satu inovasi teknologi yang diperkenalkan On (terkenal dengan sebutan On Cloud atau On Running) adalah LightSpray. Teknologi ini dipakai untuk proses pembuatan bagian atas sepatu (upper).

Baca Juga: Whatsapp bakal Rilis Fitur Username untuk Mencegah Nomor HP Tersebar Otomatis

On menggunakan sebuah lengan robotik untuk menyemprotkan satu bahan plastik khusus langsung ke atas sol sepatu, sampai membentuk serat-serat halus mirip kembang gula.

Cara ini dipakai untuk menggantikan jahitan dan lem untuk merekatkan sepatu. Hasilnya, sepatu lari seri Cloudmonster 3 Hyper ini cuma butuh delapan komponen saja. Beratnya nggak sampai 215 gram!

Bagi On, teknologi ini bukan cuma bikin sepatu maraton yang cepat buat para atlet elite, tapi juga mengubah total sistem produksi di masa depan.

"Apa yang kami lakukan saat ini berada di garda terdepan teknologi. Sistem otomatisasi ini membuka peluang bagi kami untuk memindahkan lokasi produksi agar lebih dekat dengan konsumen di AS dan Eropa, tidak lagi berpusat di Asia. Ini juga punya dampak yang sangat bagus buat lingkungan," jelas Co-CEO On Caspar Coppetti.

Selain ramah lingkungan, langkah ini juga bikin rantai pasok mereka jadi lebih cepat dan lincah. On bisa memproduksi barang dalam jumlah yang pas sehingga tidak perlu melakukan cuci gudang atau menjual produk dengan harga diskon di gerai outlet.

Nike mulai kepayahan?

Baca Juga: Ini Penyebab Davina Karamoy Enggan Menatap Farhan Rasyid di 'Andai Waktu Bisa Diulang Kembali'

Strategi On Cloud yang disiplin menjaga harga premium dan jumlah stok terbukti berhasil. Pada kuartal pertama tahun 2026, On mencatat rekor penjualan lebih dari Rp16 triliun, naik 14,5% dibanding tahun lalu.

Kondisi ini berbanding terbalik dengan Nike yang proses pemulihan bisnisnya berjalan lebih lambat daripada harapan para investor. Posisi Nike di pasar sepatu lari terus terkikis akibat menumpuknya stok barang. Penjualan di pasar utama mereka, yaitu China, juga merosot hingga 12%.

CEO Nike Elliott Hill mengakui bahwa hasil kerja mereka saat ini memang belum maksimal, terutama untuk lini lifestyle seperti Nike Sportswear dan Jordan streetwear. Penjualan kedua lini tersebut masih ngos-ngosan.

"Secara keseluruhan, hasilnya memang belum terlihat sekarang. Kami tahu bahwa kami belum bekerja sesuai potensi maksimal kami. Penjualan yang melambat ini akhirnya berdampak pada strategi diskon saat ini dan jumlah pesanan di masa mendatang," jelas Elliott Hill.

Halaman:

Tags

Terkini