news

Fenomena Hikikomori di Jepang, Isolasi Diri Karena Tekanan Sosial Tinggi

Kamis, 13 April 2023 | 20:49 WIB
Mengurung diri atau mengisolasi diri dari dunia luar bisa menjadi tanda depresi. (Pixabay/Stocksnap)

PejuangKantoran.com - Mengurung diri atau mengisolasi diri dari dunia luar bisa menjadi tanda depresi. Namun, di Jepang perilaku tersebut merupakan sebuah fenomena sosial yang disebut dengan fenomena hikikomori.

Saat ini, di Negeri Sakura tersebut diperkirakan 1,5 juta orang usia kerja hidup dalam isolasi. Mereka menghindari kontak sosial sama sekali sehingga banyak pihak yang semakin mengkhawatirkan kesehatan mental dan kesejahteraan sosial mereka. 

Bahkan, menurut sebuah survei yang dilakukan pada 30.000 warga Jepang berusia 10-69 tahun, ada 2% individu dalam kelompok usia 15-62 tahun yang mengalami fenomena hikikomori.

Baca Juga: TikToker Ini Sebut Lampung Kota “Dajjal”, Warganya Langsung Ikutan Curhat

Apa Sebenarnya Fenomena Hikikomori Itu?

Istilah hikikomori diciptakan di Jepang pada 1990-an untuk menggambarkan orang dewasa muda yang menarik diri dari masyarakat dan tetap terisolasi di rumah untuk waktu yang lama. Meski terkesan sebagai “penyakit”, tetapi ini bukan diagnosis klinis, melainkan fenomena sosial.

Menurut psikolog yang meneliti fenomena hikikomori, Tamaki Saito, banyak yang menganggap hikikomori dilakukan karena orang tersebut malas atau berbahaya, tetapi sebenarnya tidak seperti itu.

Vishnu Priya Bhagirath, seorang psikolog konseling menjelaskan, “Hikikomori dapat dipicu oleh berbagai faktor seperti kecemasan sosial, depresi, tekanan akademik, dan perundungan. Ini sering disertai dengan masalah kesehatan mental lainnya seperti depresi dan gangguan kecemasan.”

Baca Juga: Hari Raya Idul Fitri 2023 Jatuh pada Tanggal Berapa? Ini Penentuannya

Mereka yang terkena fenomena hikikomori ini mengurung dirinya karena berbagai alasan, seperti marah dengan dirinya sendiri, orang tuanya atau masyarakat, merasa gagal, dan tidak tahan dengan tuntutan sosial. Hal tersebut membuat mereka merasa sangat tidak bahagia dan kehilangan jati dirinya.

Belum lagi tekanan yang dihadapi oleh warga Jepang yang memang sangat tinggi. Banyak anak muda menghadapi tekanan akademik yang ekstrim untuk berhasil di sekolah agar mendapat pekerjaan yang baik, Hal ini menyebabkan tingkat kecemasan dan stres yang tinggi.

Selain itu, budaya kerja Jepang juga sangat intens dan menguras tenaga. Jam kerja yang panjang, tingkat stres yang tinggi, dan terbatasnya peluang untuk peningkatan karir dapat menyebabkan kelelahan dan berkontribusi pada terjadinya fenomena hikikomori.

Tindakan yang Perlu Dilakukan untuk Mengatasi Fenomena Ini

Vishnu mengatakan bahwa perawatan untuk hikikomori umumnya bersifat psikoterapi, bukan dengan pemberian obat. Meskipun obat dapat digunakan untuk mengobati penyakit mental yang terjadi bersamaan.

Halaman:

Tags

Terkini