Sistem mereka mengarah pada penciptaan teknologi yang semakin kuat, termasuk chatbot baru seperti ChatGPT dan Google Bard.
Tahun 2018, Geoffrey dan dua muridnya tersebut menerima Turing Award, yang sering disebut “Hadiah Nobel untuk Komputasi”, untuk jaringan neural yang mereka kembangkan sejak 2012.
Baca Juga: Rekrutmen Bersama BUMN 2023 Dibuka 5 Mei 2023! Ini Jadwal Rekrutmen dan Dokumen yang Diperlukan
Jaringan neural, mengutip Amazon, adalah metode dalam kecerdasan buatan yang mengajarkan komputer untuk memproses data dengan cara yang terinspirasi dari otak manusia.
Geoffrey dan kedua muridnya membangun jaringan neural yang dapat menganalisis ribuan foto dan belajar sendiri untuk mengidentifikasi objek umum, seperti bunga, anjing, dan mobil.
Tahun lalu, ketika Google dan OpenAI kembali membangun sistem menggunakan data dalam jumlah yang jauh lebih besar, pandangan Geoffrey mulai berubah.
Ia berpikir bahwa dalam banyak hal teknologi ini melampaui kecerdasan manusia.
“Mungkin apa yang terjadi dalam sistem ini, sebenarnya jauh lebih baik daripada apa yang terjadi di otak,” ujarnya.
Apalagi saat perusahaan meningkatkan sistem AI mereka, dia yakin itu akan semakin berbahaya. Melihat perkembangan sistem ini lima tahun lalu dan sekarang, lalu jika diimplementasikan di masa depan, menurut dia hasilnya akan menakutkan.
Persaingan membuat perkembangan AI tak terkendali
Geoffrey berpendapat, beberapa perusahaan raksasa teknologi akan memiliki persaingan yang mungkin tidak bisa dihentikan.
Dampak yang ditakutkannya adalah bahwa internet akan dibanjiri dengan foto, video, dan teks palsu, tetapi rata-rata orang bakal tak mampu lagi mengetahui mana yang benar.
Ia juga khawatir bahwa teknologi AI pada waktunya akan menjungkirbalikkan pasar kerja. Ini mungkin dapat menggantikan pekerjaan paralegal, asisten pribadi, penerjemah, dan pekerjaan lain yang berhubungan dengan tugas hafalan.
Tak hanya itu, laki-laki berdarah Inggris ini juga khawatir versi teknologi masa depan akan menimbulkan ancaman bagi umat manusia karena kemampuannya untuk mempelajari perilaku tak terduga dari data yang dianalisis.
Ini bisa terjadi karena individu dan perusahaan memungkinkan sistem AI tidak hanya menghasilkan kode komputer sendiri, tetapi sebenarnya menjalankan kode itu sendiri.