news

Apa Itu Revenge Porn? Istilah “Menyesatkan” dari Kasus Alwi Husein Maolana Si Penyebar Video Asusila

Jumat, 14 Juli 2023 | 16:54 WIB
Ilustrasi: Istilah revenge porn yang digunakan dalam kasus Alwi Husein Maolana ternyata menyesatkan. (Unsplash/charlesdeluvio)

Baca Juga: Dalami Karakter di Why Do You Love Me, Jefri Nichol Ogah Tonton Film Aslinya

Purple Code, sebuah kelompok feminis yang berbasis di Indonesia, menunjukkan bahwa penyebaran foto atau video intim secara nonkonsensual, seringkali dilakukan sebagai upaya untuk melanggengkan kekuasaan, yaitu kontrol dan dominasi atas korban.

Jadi, ini bukan semata tentang balas dendam.

Lagipula, “revenge” atau “balas dendam” mengandung makna bahwa korban telah menghasut pelaku dan telah melakukan sesuatu yang pantas untuk mendapatkan balas dendam.

Lalu, istilah “porn” atau “porno” menyiratkan bahwa memotret atau merekam diri sendiri tanpa busana atau melakukan tindakan seksual (atau membiarkan orang lain melakukannya) adalah pornografi.

Padahal, jika konteksnya hubungan pribadi yang intim, tidak boleh dianggap sebagai pembuatan pornografi.

Sekarang, istilah revenge porn juga digunakan dengan keinginan untuk mendapatkan keuntungan, ketenaran, atau hiburan.

Erika Rackley, Profesor Hukum di Kent Law School, mengatakan bahwa istilah ini digunakan oleh Hunter Moore. Ia adalah pendiri Is Anything Up?, situs web pertama yang memungkinkan pengguna memposting foto eksplisit orang lain tanpa persetujuan, disertai dengan informasi pribadi, seperti nama dan alamat mereka.

Fakta bahwa istilah tersebut berasal dari pelaku kriminal menimbulkan pertanyaan seberapa etis untuk terus menggunakan istilah revenge porn.

Istilah yang lebih tepat digunakan

Menurut penelitian yang dilakukan oleh Nicola Henry dan Asher Flynn, istilah “image-based sexual abuse” atau "pelecehan seksual berbasis gambar" lebih cocok karena dapat mewakili banyak bentuk.

Akademisi Beyond’ Revenge Porn’: The Continuum of Image-Based Sexual Abuse mendukung penggunaan istilah ini.

Mereka percaya, istilah itu secara akurat menunjukkan bagaimana tindakan yang merupakan bentuk pelecehan terjadi melalui distribusi gambar dan video seksual pribadi.

Penggunaan istilah ini diharapkan juga dapat membatasi pembingkaian media dan masyarakat yang berbahaya, dan jauh dari narasi yang menyalahkan korban.

Baca Juga: BTS Beberkan Pengalaman Di-bully pada Awal Karir, Apa Tips Agar Pulih dari Trauma Bullying?

Halaman:

Tags

Terkini