PejuangKantoran.com - Direktur Jenderal Vokasi Kementerian Pendidikan Kebudayaan Riset dan Teknologi Periode 2019-2022 Wikan Sakarinto, PhD, memperkenalkan konsep Pembelajaran Berbasis Proyek dan Teaching Factory untuk mendorong siswa belajar di luar kelas. Dosen di jurusan Teknik Mesin Universitas Gadjah Mada ini mengembangkan perusahaan yang terintegrasi dengan kampus. Mahasiswa diajak untuk mengerjakan proyek manufaktur sekaligus memasarkan proyek itu sendiri. Omzet dari proyek tersebut menurutnya mencapai dua miliar per bulan.
Konsep Pembelajaran Berbasis Proyek dan “Teaching Factory” ini menurutnya dapat membantu menumbuhkan passion atau semangat dalam diri pelajar, saat bersekolah maupun berkuliah. Tak sedikit pelajar yang mengikuti pelajaran karena terpaksa, bukan karena keinginan sendiri. Ketiadaan passion inilah yang menjadi akar masalah dari jebloknya pencapaian dunia pendidikan Indonesia.
Baca Juga: 5 Akun Influencer Kocak dan Relate Banget Sama Drama Pejuang Kantoran, Jangan Diskip!
Hal ini disampaikan Wikan dalam Seminar dan Peluncuran Modul MBKM (Merdeka Belajar – Kampus Merdeka) di SEVIMA Platform, yang diadakan di Auditorium LPP Yogyakarta, Jum’at (25/11/2022) lalu. Dalam seminar tersebut diungkapkan bagaimana dunia pendidikan Indonesia menempati peringkat terbawah dalam berbagai survei pendidikan tingkat internasional.
Survei PISA misalnya, menyebutkan hampir 90% siswa Indonesia memiliki tingkat kemampuan berpikir yang sangat rendah. Survei Martin Prosperity Institute juga menempatkan Indonesia sebagai salah satu negara paling tidak kreatif di dunia.
“Jangankan dibandingkan dengan Singapura atau Malaysia, peringkat pendidikan kita bahkan jauh di bawah negara-negara Afrika seperti Maroko. Hasilnya, hoax mudah menyebar, dan perusahaan mengeluh karena tidak cocok apa yang dibutuhkan industri dengan yang diluluskan sekolah dan kampus,” ungkap Wikan.
Baca Juga: Begini Cara Membeli Sukuk Tabungan ST009, Kesempatan Terakhir 28 November 2022!
Wikan mengisahkan pengalamannya pribadi saat berkuliah. Awalnya ia bercita-cita menjadi insinyur dan berkuliah sarjana (S1) di Universitas Gadjah Mada. Namun nasib mengantarkannya menjadi Mahasiswa Diploma 3 (D3) Teknik Mesin. Karena paksaan dan diterima di jurusan yang tidak diminatinya, Wikan akhirnya belajar tanpa semangat.
“Belajar karena terpaksa atas tuntutan, tidak semangat, hari demi hari saat kuliah rasanya berat sekali. Beda kalau pelajaran itu memang passion dia,” ungkap Wikan. “Saya punya murid yang bahkan nggak mau pulang sampai malam hari. Masih kerja di bengkel yang dikelola kampus. Saya sampai suruh pulang supaya bisa bersosialisasi dan pacaran.”
Kurikulum yang terlalu kaku menurut Wikan juga menghambat pelajar menumbuhkan passion. “Belajar Matematika harus puluhan jam setiap minggu? (Mestinya) Cukup sebentar saja, sambil ditumbuhkan passion plus soft skill-nya (karakter). Kalau senang pasti akan dilanjutkan sendiri,” ajak Wikan.
Baca Juga: Bandara Bakal Hapus Aturan 100ml untuk Cairan yang Boleh Dibawa ke dalam Tas Tangan?
Menumbuhkan passion bagi pelajar
Dalam seminar tersebut, Wikan bersama Wakil Ketua Panitia Pusat Kampus Merdeka Kemdikbudristek Dr Hatma Suryaatmojo, serta 100 pimpinan Lembaga Pendidikan yang tergabung dalam Komunitas SEVIMA, membagikan tips bagaimana menumbuhkan passion bagi pelajar untuk meningkatkan kecerdasan sekaligus karakter pelajar.
Kurikulum hardskill (teknis) sebaiknya dipadatkan di semester-semester awal. Semester selanjutnya adalah kesempatan bagi pelajar untuk mengembangkan diri sesuai passion, sekaligus memperkuat karakternya.
Adapun konsep Pembelajaran Berbasis Proyek (Project Based Learning) dan Teaching Factory yang telah disampaikan sebelumnya, menurut Wikan baru pertama kali dilakukan di Indonesia olehnya. Selama ini sudah banyak mahasiswa mengerjakan proyek, namun proyeknya merupakan penugasan dari dosen dan bukan atas inisiatif sendiri.
“Di kampus kami, mahasiswa malah untung. Kuliah sambil kerja dan digaji, dan selama mereka kuliah, proses pekerjaan itu juga dihitung sebagai proses pembelajaran. Pelajar jadi punya tujuan, bahkan seperti yang saya ceritakan tadi, sampai tidak mau pulang dari kampus,” pungkasnya.
Artikel Terkait
3 Kesan yang Langsung Disimpulkan Orang Lain Saat Ketemu Kita Kali Pertama
Langkah Awal Melakukan Career Switch Jadi Data Analyst, Pekerjaan dengan Gaji Tinggi
Huawei MatePad SE, Praktis dan Fungsional untuk 'Work from Anywhere'
Selama Ini, Pola Makan Kita Ternyata Dipengaruhi Rekan Kerja di Kantor
Weekend Seru: Ikut Walking Tour Menyusuri Rute Pecinan di Jakarta