Lebih dari 55% Orang Mengaku Pernah Berbohong dalam CV. Apa 8 Kebohongan Terbesar di Resume?

photo author
Felicitas Harmandini, Pejuang Kantoran
- Rabu, 21 Desember 2022 | 21:59 WIB
Ilustrasi: Ada 8 kebohongan dalam resume yang paling sering disampaikan pencari kerja. (Freepik/Drazen Zigic)
Ilustrasi: Ada 8 kebohongan dalam resume yang paling sering disampaikan pencari kerja. (Freepik/Drazen Zigic)

PejuangKantoran.com - Pernahkah kamu merasa tergoda untuk sedikit ngibul saat menyebutkan riwayat pekerjaan dan kualifikasimu di dalam CV-mu? Banyak orang yang berbohong dalam CV, tetapi sebaiknya kamu jangan coba-coba lagi!

Menurut sebuah survei yang digelar oleh StandOut CV, sebuah platform pembuat resume, sebanyak 55% pekerja di Amerika pernah berbohong dalam CV mereka. Kalau kamu berniat meniru langkah tersebut, ingatlah bahwa calon pemberi kerja bisa mengecek kebenaran klaim kamu tersebut.

Misalnya, kalau kamu salah menyatakan bahwa kamu bermain di tim basket perguruan tinggi kamu, hal itu bisa diverifikasi dengan mudah. Kamu juga tidak pernah tahu bagian mana dari CV kamu yang mungkin ingin diselidiki oleh calon pemberi kerja.

Baca Juga: Tulis Skill Bahasa Inggris dalam CV, Penting Nggak Sih? 

Hanya 30% orang yang berbohong dalam CV mengaku belum tertangkap. Sebab, berbohong di resume atau lamaran kerja bisa dianggap penipuan. Polisi bisa saja dilibatkan untuk menyelesaikan masalah tersebut.

Di antara mereka yang mengaku pernah berbohong dalam resume tersebut, 60%-nya adalah pria, dan 51%-nya wanita. Bagian mana dari resume itu yang diketahui bukan fakta sebenarnya? Berikut 8 kebohongan terbesar di resume yang paling sering disampaikan:

55% berkaitan dengan pengalaman kerja,
43% berkaitan dengan skills,
41% berkaitan dengan gelar kesarjanaan,
40% berkaitan dengan usia/lokasi/nama,
39% berkaitan dengan detail Pendidikan di SMA,
34% berkaitan dengan informasi gaji,
34% berkaitan dengan job specific software/equipment skills,
21% berkaitan dengan referensi dari pemberi kerja yang lama.

Baca Juga: Jangan Sembarangan Posting Di Sosmed Karena Social Media Bisa jadi CV Kamu!

Dari 8 kebohongan terbesar di resume tersebut, kamu mungkin bertanya-tanya mengapa ada orang yang berbohong dengan namanya sendiri. Ternyata, hal itu dipicu oleh karena mereka kaum minoritas dan mengkhawatirkan adanya diskriminasi ras atau etnik.

Selain itu, orang juga menyampaikan referensi palsu. Total sebanyak 17% pekerja (1 dari 6) sudah menggunakan layanan referensi kerja palsu, termasuk pemberi kerja palsu dan membayar aktor untuk melakukan sesuatu. Setiap referensi dihargai 145 dollar.

Perbedaan usia
Lalu, siapa penipu terbanyak yang mengatakan kebohongan dalam resume? Tercatat, 72%-nya adalah pekerja manufaktur, 64% pekerja kesehatan, 63% pekerja seni dan kreatif, 58% manajemen bisnis dan pekerja administrasi, dan 58% dari pekerja pendidikan.

Di antara kelompok usia, anak muda adalah yang paling sering berbohong di resume mereka:

67% usia 18 - 25,
57% usia 26 - 35,
50% usia 36 - 45,
48% usia 46 - 55,
53% usia 56 - 65, dan,
26% usia 65-plus.

Baca Juga: Daripada Penasaran, Follow Up Lamaran Kerja yang Kamu Kirimkan!

Menarik bahwa persentase usia tersebut menurun pada kelompok usia sampai usia 56 hingga 65. Mungkin kelompok tersebut merasakan lebih banyak tekanan untuk meningkatkan kualifikasi mereka terhadap pesaing yang lebih muda dalam melamar pekerjaan.

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizinĀ redaksi.

Editor: Felicitas Harmandini

Sumber: The Street, StandOut CV

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

X