PejuangKantoran.com - Belum lama ini The Muse membuat survei terhadap lebih dari 2.500 responden milenial dan Gen Z. Hasilnya, tujuh dari sepuluh atau 72% pekerja muda menyesal meninggalkan pekerjaan lama. Berapa lama harus bertahan dengan pekerjaan yang tidak disukai sebelum resign?
Survei ini bertujuan untuk mengetahui reaksi pekerja setelah mereka memulai pekerjaan baru. Hasilnya di luar dugaan, menurut Kathryn Minshew, CEO The Muse, lebih banyak orang yang berhenti daripada bertahan di pekerjaan yang baru.
Baca Juga: Kenapa Sih Surat Resign Disebut A Letter to Elise?
Ada pun alasan menurunnya waktu untuk bertahan dalam pekerjaan yang tidak disukai sebelum resign meliputi:
• Pemahaman mendalam mengenai tempat kerja dan calon rekan kerja yang baru menurun akibat fenomena virtual interview belakangan ini.
• Ketidakpuasan dengan jumlah waktu yang diharapkan pada karyawan untuk berada di kantor (work from office).
• Evolusi “aturan” mengenai berapa lama harus bertahan dengan pekerjaan yang tidak disukai sebelum akhirnya mengundurkan diri.
Baca Juga: Jangan Kelamaan Mikir, Ini Tanda Kamu Sudah Waktunya Resign!
"Dulu kalau kita memulai pekerjaan baru dan tidak menyukainya, kita harus bertahan setidaknya selama satu atau dua tahun untuk menghindari catatan buruk di resume kita," kata Minshew. "Tetapi kami telah melihat perubahan persepsi yang sangat menarik ini."
Sekitar 80% pekerja milenial dan Gen Z mengatakan, boleh-boleh saja meninggalkan pekerjaan baru setelah enam bulan jika pekerjaan itu tidak seperti yang diiklankan, demikian menurut Minshew.
Sekitar 1 dari 5 pencari kerja bahkan mengakui bahwa mereka akan berhenti dalam waktu satu bulan jika pekerjaan yang dijalani ternyata tidak seperti yang diharapkan.
Kemudian, 41% pekerja muda mengatakan mereka akan berhenti dalam dua sampai enam bulan. Kurang dari separuh pencari kerja (48%) benar-benar akan mencoba kembali ke perusahaan lama dan mendapatkan pekerjaan mereka yang dulu.
Minshew mengatakan gelombang karyawan yang berhenti bekerja dalam waktu singkat bisa memicu karyawan untuk ramai-ramai mengundurkan diri, mengacu pada jutaan orang Amerika yang meninggalkan pekerjaan mereka selama pandemi Covid-19.
Untuk mengubah pola tersebut, Minshew mengatakan perusahaan harus lebih terbuka saat interview maupun ketika karyawan baru sudah masuk bekerja. Hal ini untuk membantu mempertahankan karyawan yang tidak benar-benar puas tetapi masih bersedia bekerja.
Artikel Terkait
Milenial, Gen Z, dan Gen X Punya Persiapan Beda Saat Liburan: Ada yang Pilih Uang, Ada yang Camilan
Survei: 96% Orang Indonesia Pilih Berlibur Akhir Tahun di Dalam Negeri
Mengenali Ciri-ciri Email Phishing yang Paling Umum (Spelling Error Paling Sering)
Tenang, Begini Cara Mencegah Jadi Korban Phishing Agar Rekening Bank Tidak Kebobolan
72% Gen Z Menyesal Meninggalkan Pekerjaan Lama Karena Pekerjaan yang Baru Tak Sesuai Harapan