PejuangKantoran.com - Konsep work-life balance yang selama ini dianggap penting oleh banyak pekerja, terutama generasi milenial dan Gen Z, kini kembali diperdebatkan setelah sejumlah tokoh eksekutif menyebutnya sebagai “red flag” atau tanda bahaya dalam dunia kerja.
Pernyataan ini memicu diskusi luas tentang apakah keinginan menjaga keseimbangan hidup dan pekerjaan benar-benar menunjukkan masalah dalam karier seseorang, atau justru hal yang wajar dalam dunia kerja modern.
Pandangan CEO: Jika butuh balance, berarti tidak cocok dengan pekerjaan
Salah satu CEO perusahaan global, Iñaki Ereño, menyatakan bahwa terlalu fokus pada work-life balance bisa menjadi tanda bahwa seseorang sebenarnya tidak menikmati pekerjaannya.
Menurutnya, ketika seseorang terus memikirkan batas tegas antara hidup dan pekerjaan, hal itu bisa menunjukkan adanya ketidakcocokan dengan bidang yang dijalani.
Ia menilai bahwa orang yang benar-benar mencintai pekerjaannya tidak akan merasa perlu memisahkan waktu kerja dan kehidupan secara kaku, karena keduanya dapat berjalan lebih menyatu.
Baca Juga: Ibnu Jamil Pakai Gaya Parenting-nya untuk Peran Ayah di 'Yang Lain Boleh Hilang Asal Kau Jangan'
Dalam pandangan tersebut, bekerja hingga di luar jam kantor, termasuk di akhir pekan, tidak selalu dianggap sebagai beban. Sebaliknya, hal itu dipandang sebagai bentuk keterlibatan dan kecintaan terhadap pekerjaan.
CEO tersebut juga menekankan bahwa kunci utamanya adalah menemukan pekerjaan yang sesuai dengan minat dan passion, sehingga pekerjaan tidak terasa seperti beban yang perlu “diimbangi” dengan kehidupan pribadi.
Perdebatan di era kerja modern
Meski begitu, pandangan ini menuai pro dan kontra. Di satu sisi, ada tokoh-tokoh bisnis dan teknologi yang mendukung pandangan bahwa kesuksesan membutuhkan dedikasi tinggi tanpa terlalu membatasi waktu kerja.
Namun di sisi lain, banyak pekerja modern justru menempatkan work-life balance sebagai prioritas utama, terutama untuk menjaga kesehatan mental, mencegah burnout, dan meningkatkan kualitas hidup.
Fenomena ini menunjukkan adanya pergeseran nilai dalam dunia kerja, di mana generasi baru lebih menuntut fleksibilitas dibandingkan budaya kerja lama yang menekankan jam kerja panjang.
Baca Juga: 10 Keterampilan Yang Mendukung Kemampuan Adaptif Supaya Kamu Tetap Bisa Optimis Dengan Masa Depan!
Antara produktivitas dan kualitas hidup
Perdebatan tentang work-life balance pada akhirnya kembali pada pilihan individu dan budaya perusahaan. Sebagian melihatnya sebagai hambatan produktivitas, sementara yang lain menganggapnya sebagai kebutuhan dasar agar pekerja tetap sehat dan berkelanjutan.
Diskusi ini diperkirakan akan terus berlanjut seiring berubahnya pola kerja di era digital dan meningkatnya kesadaran akan kesehatan mental.
Artikel Terkait
CEO Airbnb Brian Chesky Nge-Spill Dua Tipe Orang yang akan Paling Mudah Digantikan oleh AI
Kalau Ditanya 'Kapan Bisa Mulai Bekerja', Jangan Menjawab ‘Secepatnya’. Ini Alasannya!
Jangan Kena Jebakan Pertanyaan 'Kapan Bisa Mulai Bekerja', Pertimbangkan Ini Sebelum Menjawabnya!
8 Kebiasaan Pagi yang Diam-Diam Bisa Membuat Hari Lebih Produktif
Founder Anthropic Daniela Amodei Sarankan Pengusaha Berlibur untuk Menguji Calon Pendiri Startup
Bagaimana Cara Pramugari Gantian Jaga dan Tidur di Penerbangan Internasional Jarak Jauh?
10 Keterampilan Yang Mendukung Kemampuan Adaptif Supaya Kamu Tetap Bisa Optimis Dengan Masa Depan!
Bukan Modal Uang, Namun Social Capital Sangat Berharga dan Tak Tergantikan di Kantor!
7 Pilar Utama Dalam Membangun Trust di Kantor yang Wajib Kamu Terapkan!
6 Bentuk Trust yang Lazim Diterapkan di Kantor. Perhatikan Cara Membangunnya!