Survei: Anak Muda Sekarang Nggak Akan Mandiri Secara Finansial sampai Usia 26 Tahun

photo author
Felicitas Harmandini, Pejuang Kantoran
- Jumat, 19 Juni 2026 | 08:04 WIB
Ilustrasi: Banyak orang dewasa muda yang masih mengandalkan bantuan keuangan dari orangtua untuk membiayai hidupnya. (Freepik/Lifestyle Memory)
Ilustrasi: Banyak orang dewasa muda yang masih mengandalkan bantuan keuangan dari orangtua untuk membiayai hidupnya. (Freepik/Lifestyle Memory)

PejuangKantoran.com - Dulu, masuk usia 21 tahun dianggap sudah bisa cari duit sendiri. Sekarang, situasinya sudah jauh berubah. Rasanya anak muda makin susah untuk benar-benar mandiri secara finansial begitu lulus kuliah.

Berdasarkan survei terbaru, sebagian besar orang tua yang punya anak remaja memperkirakan kalau mereka masih harus menyokong keuangan anaknya sampai si anak menginjak usia 26 tahun.

Bahkan, rencana orang tua terpaksa membatalkan niat untuk pindah ke rumah yang lebih kecil (downsizing) demi menghemat masa tua. Sebaliknya, sekitar 1 dari 14 orang tua (7%) justru berencana pindah ke rumah yang lebih besar supaya anak-anak mereka yang sudah dewasa bisa tetap tinggal serumah.

Baca Juga: Orang yang Baca Review Berulangkali Sebelum Membeli Barang Bukan Berarti Kelamaan Mikir

Fenomena ini bikin perusahaan investasi M&G, yang mendanai riset ini, memperingatkan keluarga agar mengkalkulasi ulang rencana keuangan jangka panjang mereka.

Riset yang dilakukan oleh agensi riset pasar Opinium terhadap 1.000 orang tua dan 1.000 remaja usia 16-18 tahun di Inggris ini menemukan fakta yang membagongkan.

Cuma 9% orang tua yang pede kalau anaknya bisa mandiri secara finansial di usia 21 tahun. Sementara itu, hampir seperlima orang tua (18%) pasrah kalau mereka masih harus membiayai anak mereka ketika sudah masuk usia 30-an!

Bantuan ini juga bukan cuma buat uang jajan harian. Sebanyak 24% orang tua berniat membantu bayar DP rumah pertama anaknya, dan 14% lainnya siap menyokong biaya sewa bulanan atau cicilan KPR dalam jangka panjang.

Dampaknya ke orang tua jelas terasa banget. Demi membantu anak-anak mereka, sekitar 64% orang tua rela mengubah gaya hidup. Ada 30% yang memotong biaya belanja harian, dan 31% memilih mengurangi jatah liburan atau belanja barang mewah.

Bahkan, ada 14% orang tua yang terpaksa menunda masa pensiun mereka, dan 11% lainnya malah kepikiran buat cari kerjaan sampingan.

Baca Juga: Ditunjuk Jadi Country General Manager Microsoft Indonesia, Gunawan Susanto Bukan Orang Baru di Teknologi

Di sisi lain, para remaja juga ikutan terkena imbasnya. Sebanyak 40% anak muda yang disurvei mengaku bakal menunda tabungan pensiun mereka sampai usia 30-an. Hal ini tentu berisiko bikin tabungan masa tua mereka jadi terlalu sedikit karena mulainya telat.

Matthew Ings, perencana keuangan bersertifikat dari M&G, ikut angkat bicara soal fenomena ini. 

"Menyokong anak sampai usia pertengahan 20-an sekarang sudah jadi hal yang biasa, tapi ini ada harganya kalau tidak direncanakan dengan matang. Banyak orang tua yang diam-diam menanggung beban ini secara perlahan.

"Sering kali mereka harus mengorbankan tabungan pensiun mereka sendiri. Di saat yang sama, kalau kemandirian finansial ini tertunda, risikonya tabungan pensiun si anak juga bakal ikut tertunda," jelas Ings.

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizinĀ redaksi.

Editor: Felicitas Harmandini

Sumber: Press Association

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

X