PejuangKantoran.com - Pancaroba atau pergantian cuaca sering bikin badan gampang sakit. Ditambah lagi kalau di kantor sedang ada project yang bikin kamu harus sering lembur, bisa-bisa satu tim bertumbangan satu per satu.
Sayangnya, banyak perusahaan baru bereaksi setelah karyawannya sudah pada tepar dan harus mengambil cuti sakit karena stres atau kelelahan. Padahal, seharusnya perusahaan bisa mencegahnya sebelum risiko itu terjadi.
Sebuah penelitian terbaru dari University of Gothenburg, Swedia, mencoba melihat hal ini dari sisi lain. Salah satu peneliti, Agneta Blomberg, mencoba mencari tahu apa saja tanda-tanda awal sebelum seseorang akhirnya terpaksa berhenti bekerja sementara.
Baca Juga: Imbal Hasil ST016 Berpotensi Ikut Naik Jadi 6,55% dan 6,75% usai BI Naikkan Suku Bunga Acuan
"Kami ingin memahami apa ciri khas orang yang tetap bisa bertahan bekerja, dan apakah ada faktor yang bisa diubah sejak dini agar mereka tidak sampai harus mengambil cuti sakit," jelas kandidat PhD dari Sahlgrenska Academy, ini.
Penelitian yang memantau sekitar 8.000 pekerja selama satu tahun ini menemukan, kesehatan mental yang baik ternyata berkaitan erat dengan kapasitas kerja seseorang. Artinya, kalau mental kita terjaga, kita cenderung lebih mampu menangani beban tugas harian.
Penelitian ini juga memperkenalkan cara baru untuk mengukur kapasitas kerja yang lebih detail, bukan cuma asal tebak. Metrik ini bisa jadi alarm sejak dini. Jadi, sebelum seseorang merasa burnout atau stres berat, perusahaan sebenarnya bisa mendeteksi risikonya.
Sekadar mengingatkan, kapasitas kerja itu berkaitan dengan kemampuan maksimal yang kita miliki untuk menyelesaikan tugas. Kemampuan ini biasanya dipengaruhi level keterampilan kita dan kondisi fisik kita saat itu.
"Metrik seperti ini bisa berfungsi sebagai indikator awal. Kita bisa mengidentifikasi risiko sebelum seseorang harus mengambil cuti sakit, sehingga ada peluang untuk memberikan bantuan atau perubahan di tempat kerja sejak dini," tambah Blomberg.
Hasil penelitian ini juga menunjukkan bahwa stres itu rumit dan tidak selalu sama buat semua orang. Misalnya, pada karyawan perempuan, lingkungan kerja yang toxic ternyata nggak selalu bikin orang berhenti bekerja.
Baca Juga: 5 Pelajaran yang Bisa Kita Ambil dari Konsep 'La Dolce Vita' Orang Italia di Dunia Kerja
Justru, orang-orang di posisi itu seringkali tetap bertahan meskipun mereka berisiko tinggi terkena masalah kesehatan mental akibat stres. Anehnya pola ini tidak ditemukan pada karyawan laki-laki.
Dari penelitian ini kita bisa menangkap bahwa kesehatan mental di tempat kerja ternyata bukan cuma soal siapa yang cuti, tapi bagaimana caranya tetap sehat saat bekerja.
Kalau perusahaan bisa lebih peka melihat penurunan kapasitas kerja sedikit saja, sebenarnya banyak masalah bisa dicegah. Buat kamu yang merasa sudah tidak sanggup lagi, lebih baik tidak menunggu sampai benar-benar tumbang.
Mungkin sudah saatnya kamu bicara dengan atasan atau mencari dukungan supaya beban kerjamu bisa dikurangi. Kesehatan mental jauh lebih berharga daripada sekadar target yang terus menumpuk.
Artikel Terkait
Benci Pekerjaan Sendiri Bisa Berdampak Buruk untuk Tubuh, Ini Penjelasannya
Waspadai Tanda-Tanda Toxic Workplace Sejak Hari Pertama Kerja
Waspada, Penipu Kini Mengandalkan AI untuk Membuat Penipuan Lowongan Kerja Makin Meyakinkan
Foto dan Suara Sandiaga Uno Dicatut untuk Menipu, Kenali Cara Kerja Penipuan Berbasis AI!
Haico Van Der Veken Berakting sebagai Kembar di Series Bercinta dengan Maut (The Other Sister)
Tak Cuma Dada Ayam, Ini Deretan Makanan dengan Protein Lebih Tinggi
10 Sinyal Tubuh yang Pantang Diabaikan Saat Lari