Long story short, teknologi bone conduction ini kemudian mulai dimanfaatkan sebagai alat bantu dengar untuk pasien dengan gangguan pada telinga luar atau telinga tengah pada tahun 1930-1950an.
Teknologi ini kemudian dikembangkan menjadi headset untuk kebutuhan militer, industri, dan komunikasi di tempat yang bising. Lalu baru awal 2000an headphone bone conduction dipasarkan unuk konsumen umum.
Pada 2011, AfterShokz (sekarang bernama Shokz) menjadi meluncurkan salah satu produk yang sukses secara komersial dan mempopulerkan bone conduction untuk olah raga.
Sekarang, dengan perkembangan teknologi Bluetooth, baterai lithium-ion yang semakin ringan dan tahan lama, tranduser getaran menjadi lebih kecil dan efisen, membuat earphone bone conduction menjadi lebih kecil, ringan, dan lebih nyaman.
Ini menjadi faktor-faktor yang mendorong earphone bone conduction makin popular, terutama di kalangan pegiat olah raga yang peduli dengan keselamatan. ***
Artikel Terkait
Mau Nonton Konser? Jangan Lupa Pakai Earplug sebagai Pelindung Telinga dari Ingar-Bingar
Taylor Swift Lindungi Suara dari AI, Daftarkan Frasa Ikonik sebagai Merek Dagang
Harta Karun dari Tiongkok: Ini 6 Brand Sepatu Lari Alternatif dari Negeri Tirai Bambu
Mindful Running: Ternyata Lari Bisa Menjadi Sesi Meditasi Penurun Stres
Teknologi dalam Genggaman untuk Sehat: Bagaimana Wearable Device Mempersonalisasi Olahraga Anda
Ada 3 Manfaat Utama Saat Melakukan Olah Raga Bersama Pasangan yang Wajib Kamu Ketahui!