Hermanto Tan, Tukang Insinyur Pecinta Pisau yang Sedang Patenkan Pengasah Pisau Buatan Indonesia

photo author
Josephus Primus, Pejuang Kantoran
- Jumat, 15 Desember 2023 | 14:28 WIB
Kata Technical Director PT Katto Asa Indonesia Hermanto Tan, di dalam lomba kuliner, termasuk kuliner berbahan baku daging sapi australia, peserta jangan pernah membawa pisau tumpul. Katto menjadi penyedia pengasah pisau pada lomba kuliner daging sapi australia oleh Meat & Livestock Australia. (PejuangKantoran.com/Josephus Primus)
Kata Technical Director PT Katto Asa Indonesia Hermanto Tan, di dalam lomba kuliner, termasuk kuliner berbahan baku daging sapi australia, peserta jangan pernah membawa pisau tumpul. Katto menjadi penyedia pengasah pisau pada lomba kuliner daging sapi australia oleh Meat & Livestock Australia. (PejuangKantoran.com/Josephus Primus)

Pisau pemotong daging sapi Australia di depan peserta Kompetisi Butchery and Cooking oleh Meat & Livestock Australia (MLA), Kamis (30/11/2023) di Hotel Raffles Jakarta.
Pisau pemotong daging sapi Australia di depan peserta Kompetisi Butchery and Cooking oleh Meat & Livestock Australia (MLA), Kamis (30/11/2023) di Hotel Raffles Jakarta. (Pejuang kantoran.com/Josephus Primus)

Knife lover Hermanto Tan yang juga pecinta pisau ini juga mengoleksi pisau, sekaligus belajar memasak dan memotong-motong (daging), terutama steak.

"Saya bukan dari dunia kuliner, saya engineer," tutur knife lover Hermanto Tan.

Titel engineer atau sarjana teknik atau tukang insinyur ditempuh Hermanto Tan sejak 1996 di Amerika Serikat.

Foto ilustrasi seorang chef atau juru masak perempuan mengolah daging sapi australia. Gen Z atau Generasi Z yang ingin jadi chef, ingat profesi chef bukan profesi instan karena ada waktu 10 tahun untuk jadi chef terbaik.
Foto ilustrasi seorang chef atau juru masak perempuan mengolah daging sapi australia. Gen Z atau Generasi Z yang ingin jadi chef, ingat profesi chef bukan profesi instan karena ada waktu 10 tahun untuk jadi chef terbaik. (Pejuang kantoran.com/Josephus Primus)

"Saya engineer bidang metalurgi," kata tukang insinyur Hermanto Tan, lagi.

Pengoleksi hingga 87 pisau dari berbagai jenis dan fungsi serta negara ini menemukan momentum ide pengasah pisau saat masa pandemi Covid-19 sekitar dua tahun silam.

"Waktu itu everything slow dan saya mulai mengasah sendiri pisau-pisau koleksi saya," ucap tukang insinyur metalurgi Hermanto Tan.

Pecinta pisau atau knife lover dan pengasah pisau

Foto ilustrasi chef atau juru masak memotong daging sapi australia. Profesi chef atau juru masak bukanlah profesi dengan pencapaian instan. Butuh waktu 10 tahun menjadi chef terbaik.
Foto ilustrasi chef atau juru masak memotong daging sapi australia. Profesi chef atau juru masak bukanlah profesi dengan pencapaian instan. Butuh waktu 10 tahun menjadi chef terbaik. (Pejuang kantoran.com/Josephus Primus)

Mengaku tak sanggup mengasah seorang diri pisau-pisau koleksinya itu, Hermanto Tan kemudian mencari pengasah pisau yang piawai dan mumpuni.

"Ternyata, enggak ada knife sharpener yang saya cari," kata Hermanto Tan.

Ketiadaan knife sharpener alias pengasah pisau sesuai keinginannya itulah yang memunculkan ide di benak Hermanto Tan menciptakan sendiri alat pengasah pisau.

"Saya lalu menciptakan alat pengasah pisau sendiri," ujar Hermanto Tan.

Sejatinya, pembeda antara pengasah pisau Katto dengan yang lainnya adalah bahan baku.

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Editor: Josephus Primus

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

Luvita Ho, Saat Dessert Menjadi Medium Cerita

Jumat, 1 Mei 2026 | 11:15 WIB
X