3 Prinsip Investasi Abadi Benjamin Graham: Falsafah yang Membentuk Warren Buffett

photo author
Christina A.S, Pejuang Kantoran
- Senin, 11 Agustus 2025 | 10:15 WIB
Warren Buffett dijuluki bapak investasi dunia mengungkap alasan kita takkan pernah kaya  (TIMENEWS/Poto : Tangkapan layar YouTube Uang Krabs)
Warren Buffett dijuluki bapak investasi dunia mengungkap alasan kita takkan pernah kaya (TIMENEWS/Poto : Tangkapan layar YouTube Uang Krabs)

 

PejuangKantoran.com - Di dunia investasi, nama Warren Buffett sering dijadikan patokan kesuksesan.

Namun, di balik kebijaksanaan investasi “Oracle of Omaha” itu, ada sosok guru yang membentuk kerangka berpikirnya: Benjamin Graham – tokoh legendaris yang dijuluki Bapak Value Investing.

Prinsip-prinsip Graham, yang terdokumentasi dalam dua karya klasiknya, Security Analysis (1934) dan The Intelligent Investor (1949), masih menjadi bacaan wajib para investor serius. Meskipun ditulis puluhan tahun lalu, esensinya tak lekang dimakan waktu: disiplin, rasional, dan berorientasi jangka panjang.

Dari pemikirannya, ada tiga pilar investasi yang menjadi warisan abadi bagi generasi selanjutnya.

Baca Juga: Jakarta Intercultural School (JIS) Buka Lowongan Kerja Performing Arts Departmental Assistant

1. Margin of Safety – Ruang Aman di Tengah Risiko
Bagi Graham, harga adalah apa yang Anda bayar, nilai adalah apa yang Anda dapatkan. Konsep margin of safety mengajarkan pentingnya membeli aset dengan harga jauh di bawah nilai intrinsiknya, sehingga ada bantalan keamanan jika pasar bergerak tak terduga.

Ia sering menganalogikan strateginya seperti membeli sesuatu senilai satu dolar hanya dengan 50 sen. Strategi klasik yang ia populerkan, net nets, bahkan mencari saham yang nilai aset lancarnya—setelah dikurangi utang—masih lebih tinggi daripada kapitalisasi pasarnya.

2. Antisipasi Volatilitas – Jadikan Fluktuasi Sahabat
Graham menyadari bahwa pasar bergerak naik-turun setiap hari. Alih-alih takut pada volatilitas, ia justru memanfaatkannya. Ia memperkenalkan tokoh fiksi “Mr. Market” sebagai metafora: kadang optimis dan menawarkan harga tinggi, kadang pesimis dan menjual murah.

Pelajarannya sederhana: jangan terbawa arus emosi Mr. Market. Investor sejati berpegang pada analisis objektif dan tidak terjebak pada sentimen sesaat. Volatilitas bukan musuh—ia adalah peluang bagi yang sabar.

Baca Juga: Menggabungkan HR dan IT dalam Satu Divisi Tidak 100 Persen Ideal, Begini Risikonya!

3. Kenali Diri dalam Value Investing
Graham membedakan dua tipe utama investor. Enterprising investor adalah mereka yang mau bekerja ekstra—menganalisis laporan keuangan, memburu saham undervalued, dan mengincar imbal hasil di atas rata-rata.

Sementara defensive investor lebih memilih pendekatan sederhana, seperti berinvestasi pada indeks pasar. Untuk tipe ini, Graham bahkan menyarankan membeli 30 saham dari indeks Dow Jones sebagai strategi hemat waktu dan rendah risiko.

 

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Editor: Christina A.S

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

Luvita Ho, Saat Dessert Menjadi Medium Cerita

Jumat, 1 Mei 2026 | 11:15 WIB
X