Kasus COVID-19 di Singapura Naik, Apakah Dampak dari Kasus di China?

photo author
Christina A.S, Pejuang Kantoran
- Selasa, 5 Desember 2023 | 19:46 WIB
Ilustrasi kasus covid-19 di Singapura naik drastis. (Foto: Edward Jenner/Pexels)
Ilustrasi kasus covid-19 di Singapura naik drastis. (Foto: Edward Jenner/Pexels)

PejuangKantoran.com - Kementerian Kesehatan Singapura atau Ministry of Health (MOH) pada 2 Desember 2023 lalu mengumumkan terjadinya peningkatan kasus infeksi COVID-19 yang signifikan di negara tersebut.

Jumlah perkiraan infeksi COVID-19 meningkat dua kali lipat menjadi 22.094 pada minggu 19 – -25 November, dibandingkan dengan 10.726 pada minggu sebelumnya.

Meski begitu, rata-rata kasus rawat inap harian COVID-19 dan kasus ICU tetap stabil. Untuk itu, MOH mengimbau masyarakat untuk terus mengikuti perkembangan vaksinasi mereka. 

Baca Juga:  Daftar “30 Under 30 Marketing & Advertising Class” versi Forbes, Ada Kendall Jenner dan Latto!

Peningkatan kasus COVID-19 yang terjadi di Singapura ini kemungkinan disebabkan oleh beberapa faktor, seperti musim perjalanan akhir tahun dan berkurangnya kekebalan tubuh masyarakat. 

Belum lagi munculnya EG.5 dan sub-galurnya HK.3 yang tetap menjadi sub-varian dominan di Singapura sehingga menyumbang lebih dari 70% dari kasus yang diurutkan.

"Saat ini, tidak ada indikasi bahwa sub-varian yang dominan lebih mudah menular atau menyebabkan penyakit yang lebih parah dibandingkan dengan varian lain yang beredar," pernyataan dari MOH.

Baca Juga: Menyuruh Koki Magang Minum Minyak Mendidih, Head Chef Restoran Terkenal Ditangkap dan Diadili

Ada hubungannya dengan penyakit pernapasan seperti di China?

Jika melihat peningkatan penyakit pernapasan di negara-negara belahan bumi utara pada bulan-bulan musim dingin seperti ini, MOH mengatakan bahwa kejadian penyakit pernapasan secara keseluruhan di Singapura tetap stabil selama sebulan terakhir.

Mereka menjelaskan, "Tidak ada indikasi peningkatan penyakit pernapasan yang parah, termasuk pada anak-anak."

Sementara di China, lonjakan "penyakit mirip influenza" sejak pertengahan Oktober 2023 lalu disebabkan oleh peredaran patogen yang diketahui, yaitu influenza dan infeksi bakteri umum yang menyerang anak-anak, termasuk pneumonia mycoplasma.

Menurut Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), pihak berwenang China mengatakan bahwa mereka belum mendeteksi "patogen yang tidak biasa atau baru" di bagian utara negara tersebut.

Baca Juga: Generasi Z atau Gen Z Ingin Jadi Chef Handal, Tempuhlah Enam Jenjang Karier Profesional Ini

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Editor: Christina A.S

Sumber: CNA, Strait Times

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

X