Jenis-jenis kurang tidur
Diterbitkan pada hari Kamis di jurnal Psychological Bulletin milik American Psychological Association, penelitian ini menganalisis data dari 154 penelitian terhadap lebih dari 5.000 orang selama lima dekade.
Dalam studi tersebut, peneliti mengganggu tidur partisipan selama satu malam atau lebih, baik dengan membuat mereka tetap terjaga (kurang tidur), membangunkan mereka secara berkala (fragmentasi tidur), atau membuat mereka bangun lebih awal dari biasanya (kurang tidur sebagian).
Setelah itu, peserta diuji kecemasan, depresi, suasana hati, dan respons mereka terhadap pemicu emosional.
Baca Juga: 3 Perempuan Indonesia Masuk Daftar Forbes Wanita 50 Over 50 Asia, Bikin Bangga!
Dampak pada kecemasan dan depresi
Kurang tidur juga memperburuk gejala kecemasan dan depresi , menurut penelitian, bahkan pada orang yang tidak diketahui memiliki kondisi kesehatan kejiwaan atau fisik.
“Waktu terjaga yang lebih lama mengakibatkan gejala depresi atau kecemasan yang lebih ekstrem,” kata Palmer. “
"Kemungkinan besar kurang tidur dapat mempengaruhi orang-orang yang sudah mengalami depresi atau yang memiliki risiko genetik untuk mengalami depresi secara berbeda. Misalnya, beberapa penelitian kami sebelumnya menunjukkan bahwa individu yang sudah merasa cemas mungkin mengalami respons berlebihan terhadap kurang tidur.”
Kesulitan tidur mungkin juga menjadi salah satu tanda awal munculnya gangguan mental, kata Dasgupta.
“Insomnia kronis dapat meningkatkan risiko seseorang terkena gangguan mood, seperti depresi atau kecemasan,” katanya.
Baca Juga: Begini Jawaban yang Tepat Kalau Ditanya, Berapa Ekspektasi Gaji Kamu? Saat Wawancara Kerja
“Kurang tidur bisa menjadi faktor risiko kecemasan yang lebih besar. Studi yang termasuk dalam meta-analisis menunjukkan bahwa individu dengan insomnia lebih mungkin mengembangkan gangguan kecemasan dan insomnia juga merupakan prediktor depresi yang dapat diandalkan.”
Apnea tidur obstruktif, di mana tubuh berhenti bernapas selama 10 detik atau lebih dalam satu waktu, juga dapat menyebabkan tidur terfragmentasi dan terganggu, kata Dasgupta. Gangguan tidur jenis ini “lebih sering terjadi pada orang dengan kondisi kejiwaan dan perlu ditangani,” katanya.
Artikel Terkait
Begini Jawaban yang Tepat Kalau Ditanya, "Berapa Ekspektasi Gaji Kamu?" Saat Wawancara Kerja
Karen's Diner Jakarta Tutup, Kenapa?
Anggaran untuk Beasiswa LPDP akan Dihentikan, Duh Gimana Nasib Peserta yang Masih Ingin Mendaftar?
Dana Beasiswa LPDP yang Diberikan pada Awardee Merupakan Imbal Hasil Manfaat Investasi
Pantai Paal, Cara Menjelajah Sulawesi Utara di Samping Taman Nasional Bunaken
3 Perempuan Indonesia Masuk Daftar Forbes Wanita 50 Over 50 Asia, Bikin Bangga!
Bagaimana Cara Meyakinkan Diri Apakah Harus Mendelegasikan Tugas atau Melakukannya Sendiri?
Yang Dipelajari Natasha Wilona ketika Berturut-Turut Berperan sebagai Orang yang Bisa Melihat Kematian
Mengapa Pekerja Muda China Ogah Punya Anak?
Kenali Perbedaan Gaji Kotor dan Gaji Bersih, Sebelum Kamu Negosiasi Gaji saat Wawancara Kerja