6 Kebiasaan Sehat untuk Menurunkan Kortisol 'Si Hormon Stres' Saat Sibuk Bekerja

photo author
Christina A.S, Pejuang Kantoran
- Kamis, 15 Agustus 2024 | 10:00 WIB
Ilustrasi: ini kebiasaan yang bisa membantu menurunkan kadar kortisol (Freepik)
Ilustrasi: ini kebiasaan yang bisa membantu menurunkan kadar kortisol (Freepik)

PejuangKantoran.com - Kortisol dijuluki sebagai "hormon stres" karena peran utamanya dalam respons stres biologis manusia.

Namun orang-orang cenderung hanya berpikir negatif terhadap hormon ini, yang sebenarnya merupakan pemain kunci dalam beberapa fungsi dan sistem tubuh.

Sebenarnya kortisol sendiri tidak buruk sama sekali. Masalahnya muncul ketika sistem kamu memproduksi terlalu banyak kortisol atau tidak pernah kembali ke keadaan homeostatis, sehingga membuat kamu berada dalam keadaan stres kronis yang terus-menerus.

Ketika kortisol berlebihan memenuhi aliran darah, hal ini dapat membahayakan kesehatan fisik dan mental kamu. Berikut cara mengetahui apakah kadar kortisol kamu tinggi, ditambah strategi bermanfaat untuk menurunkan kortisol secara alami dan menghilangkan stres jangka panjang.

Baca Juga: Lowongan Kerja di PT Nestle Indonesia Sebagai Management Trainee, Buruan Lamar!

Istilah "kortisol tinggi" bukan sekadar diagnosis diri yang ramai di media sosial—ini adalah keadaan biologis yang sebenarnya. Meskipun demikian, peningkatan kortisol bukanlah diagnosis klinis, karena kadar kortisol akut secara alami mengalami pasang surut sesuai rancangan.

Berkat kemampuan pemulihan alami tubuh, kamu dapat pulih dari stres dengan kebiasaan positif dan faktor gaya hidup—seperti membiarkan diri cukup tidur (dan jenis istirahat lainnya) dan berolahraga secara teratur. Diagnosis hanya akan terjadi ketika stres menjadi kronis dan/atau berhubungan dengan suatu penyakit.

Berikut beberapa kebiasaan untuk menurunkan tingkat kortisol:

 

1. Tidur yang Cukup
Tidur yang cukup sangat penting untuk kesehatan secara keseluruhan, termasuk pengaturan kortisol yang tepat.

Namun sepertiga orang dewasa di AS tidak mendapatkan waktu tidur tujuh hingga sembilan jam per malam yang direkomendasikan, menurut Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit (CDC). Kurang tidur dapat menimbulkan konsekuensi kesehatan jangka pendek dan jangka panjang, termasuk kemampuan kita mengelola dan mengatur stres.

Penelitian telah menemukan bahwa kurang tidur berhubungan dengan peningkatan aktivasi poros hipotalamus-hipofisis-adrenal (HPA) , sistem respons stres utama kita.

Baca Juga: 8 Penulis Novel Baru Bahas Karya Debut Mereka, dari Soal Time Travel hingga Bertukar Suami

2. Berolahraga Secara Teratur
“Olahraga teratur adalah penghilang stres yang ampuh,” kata Jung Baccam, seorang praktisi perawat keluarga bersertifikat yang berbasis di Arizona.

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Editor: Christina A.S

Sumber: Real Simple

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

X