Heel Striking atau Gaya Berlari Dengan Tumit Tidak Salah. Berikut Kata Pakarnya!

photo author
Sigit Triwahyu, Pejuang Kantoran
- Senin, 12 Mei 2025 | 13:14 WIB
Bernarkah gaya lari heel strike itu bisa membuat cederan dan harus diubah? (Freepik)
Bernarkah gaya lari heel strike itu bisa membuat cederan dan harus diubah? (Freepik)

Pejuangkantoran.comHeel striking atau tumit mendarat terlebih dulu di permukaan tanah setiap langkah saat berlari adalah gaya berlari alami umum yang terjadi. Namun demikian, gaya berlari heel striking seperti ini kerap dianggap punya banyak kelemahan.

Heel striking terjadi ketika tumit kaki kamu menyentuh tanah terlebih dahulu selama berlari dalam setiap langkah. Meskipun ini merupakan gaya lari alami bagi banyak orang, heel striking yang berlebihan sering kali menimbulkan masalah.

Heel striking yang berlebihan menunjukkan bahwa langkah kakimu terlalu jauh, dan ini bisa menyebabkan sejumlah hal buruk, yaitu:

  • Meningkatnya benturan, sehingga memberi lebih banyak tekanan pada lutut, tulang kering, dan pinggul kamu.
  • Menurunnya efisiensi lari, menyebabkan momentum diarahkan secara vertikal daripada ke depan.
  • Risiko cedera lebih tinggi yang menyebabkan nyeri tulang kering, plantar fasciitis, atau nyeri lutut lebih mungkin terjadi.

Oleh karena itu, heel striking sering dianggap gaya berlari yang buruk. Benarkah?

Baca Juga: Butuh Pelatih Lari atau Running Coach yang Kompeten? Pahami Dulu Tugas-Tugas Mereka Berikut Ini!

Jangan Buru-buru Ganti Gaya Lari

Ternyata hal tersebut tidak benar. Menurut catatan dari Recover Athletics yang diunggah di stories.strava.com menyebutkan bahwa heel striking saat berlari tidak serta merta menjadi penyebab cedera.

Bahkan menurut sunriserun.com, beberapa atlet lari maraton elit melakukan heel strike tanpa ada dampak cedera. Kuncinya, menurut web site ini adalah bagaimana dan di mana kaki menyentuh tanah relatif terhadap tubuhmu.

Saat tumit mendarat dengan ringan dan titik mendaratnya lebih dekat ke pusat berat tubuh kamu, maka heel striking cenderung tidak menimbulkan masalah dibandingkan dengan heel striking yang kuat dan langkah yang panjang.

Oleh karena itu, bagi yang berlari dengan heel striking tidak perlu buru-buru pindah ke forefoot striking yang selama ini dianggap lebih “aman” bagi pergelangan kaki dan sendi lutut.

British Journal of Sports Medicine (seperti yang dikutip oleh Recover Athletics) setelah mengumpulkan sejumlah bukti-bukti, menyatakan bahwa pelari yang sedang tidak cedera dan sudah terbiasa melakukan heel striking, tidak perlu berganti gaya foot strike-nya menjadi forefoot striking.

Baca Juga: Komponen dan Terminologi Penting yang Wajib Kamu Ketahui Sebelum Membeli Sepatu Lari yang Tepat

Hanya ada satu studi yang menyatakan bahwa heel striking menjadi penyebab terjadinya cedera pada pelari, itu pun hanya terjadi pada lomba lari cross country 52 NCAA D1. Study ini pun tidak mempertimbangkan perbedaan dalam sepatu yang dpakai oleh pelari, waktu tidur sebelum lomba, nutrisi, atau faktor lain seperti latihan kekuatan peserta lomba.

Artinya, cedera yang terjadi belum tentu hanya karena heel striking saja, masih ada faktor-faktor yang yang memengaruhi.

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Editor: Sigit Triwahyu

Sumber: Berbagai Sumber, sunriserun.com

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

X