PejuangKantoran.com - Berhenti sejenak, membiarkan pikiran melayang tanpa arah dan tubuh duduk dengan tenang, hal sederhana ini ternyata memiliki manfaat yang jauh lebih besar dari yang kita kira.
Di Korea Selatan, ada kompetisi unik: peserta duduk tenang selama 90 menit tanpa berbicara, tanpa ponsel, tanpa gerakan, hanya hadir dalam keheningan.
Dan penelitian menunjukkan bahwa momen‐diam seperti ini memicu aktivitas di bagian otak yang disebut default mode network, yang terkait dengan kreativitas, proses emosional, dan penyelesaian masalah.
Baca Juga: Didukung AI, Canva Creative Operating System Bantu Pembuatan Konten dari Ide sampai Hasil Akhir
Dalam kehidupan modern yang penuh stimulasi, ponsel, notifikasi, multitasking, kesunyian menjadi sesuatu yang langka. Banyak orang merasa kesulitan hanya “menjadi”.
Studi yang dilakukan beberapa tahun lalu menemukan bahwa sejumlah orang lebih memilih menerima kejutan listrik ringan daripada duduk sendirian dengan pikiran mereka selama 15 menit.
Mengapa? Karena kondisi pikirannya terusik, tubuhnya terbiasa bergerak, dan otaknya terbiasa dengan keberadaan ponsel sebagai “pengalih”.
Baca Juga: Penghapusan Tunggakan BPJS Kesehatan Dimulai November 2025, Siapa Saja Peserta yang Diuntungkan?
Tapi justru karena hal itulah, memberi ruang pada otak untuk berdiam, untuk “tidak melakukan apa‐apa” menjadi sangat penting. Saat kita diam, tanpa tekanan untuk melakukan sesuatu, kita memberi kesempatan pada otak kita untuk menata ulang emosi, meredakan hormon stres, dan memproses pengalaman yang mungkin selama ini tertumpuk.
Pernapasan lambat, fokus pada satu titik, dan membiarkan pikiran datang dan pergi tanpa harus digarap, bisa menjadi latihan yang membuat kita lebih jernih dan tenang.
Memang bukan berarti diam akan langsung menyelesaikan semua masalah kita. Tapi efeknya bisa terasa: pikiran yang biasanya penuh kebisingan perlahan mereda.
Baca Juga: Skills untuk Jadi Data Entry Specialist Nggak Cuma Menguasai Spreadsheet, tapi Juga Soft Skills
Kita bisa sadar bahwa banyak kekhawatiran kita sesungguhnya tidak sebesar yang kita bayangkan.