Williams mencontohkan, dia sering merasa “nyawanya belum ngumpul” sepenuhnya sampai setelah pukul 10.00. Jadi, dia lebih memilih menjadwalkan rapat hanya setelah minum kopi pagi dan memeriksa email.
Produktivitasnya, katanya, mencapai puncaknya pada jam makan siang dan mulai menurun pada jam 18.00.
“Pola ini menyoroti keuntungan signifikan dari chronoworking: pola ini memberdayakan individu untuk melakukan introspeksi dan menyelaraskan jadwal kerja mereka dengan ritme alami mereka,” jelasnya.
Baca Juga: Cara Ampuh Jaga Kolesterol Pasca Lebaran, Awas Sebentar Lagi Sudah Masuk Kantor
Kekurangan chronoworking
Dari sudut pandang ilmu saraf dan biologis, chronoworking mungkin masuk akal. Tetapi kalau kamu bekerja di perusahaan besar, atasan mungkin tidak akan sepakat tentang bekerja sesuai dengan jam biologis kamu.
Selain itu, Williams memperingatkan bahwa tren ini belum tentu berfungsi sepenuhnya, khususnya dalam lingkungan tim di mana sebagian besar anggota mungkin berbagi jam kerja yang sama.
“Memastikan komunikasi yang efektif dan inklusivitas dalam tim yang lebih besar memerlukan penyesuaian,” jelasnya.
“Tim harus berkolaborasi untuk mengakomodasi jadwal yang beragam, yang dapat melibatkan fleksibilitas dan kompromi pada tingkat tertentu.”
Baca Juga: Google Menjanjikan Fitur Find My Device Akan Berfungsi Meskipun Ponsel Sedang Tidak Aktif
Kunci untuk mengatasi hambatan ini terletak pada menjaga transparansi dan perencanaan yang cermat. Dengan adanya elemen-elemen ini, apa yang awalnya tampak sebagai kelemahan dapat dengan cepat berubah menjadi keuntungan, meningkatkan dinamika tim dan produktivitas secara keseluruhan.
Pendekatan ini, kata Williams, juga menekankan pentingnya kemampuan beradaptasi dan saling pengertian di tempat kerja, yang pada akhirnya berkontribusi terhadap lingkungan kerja yang lebih kohesif dan efisien.
Artikel Terkait
Urai Kemacetan Arus Balik, Menhub Usul Selasa-Rabu WFH
Dianggap Manajer Mikro, Elon Musk: “Produk yang Sempurna Butuh Perhatian terhadap Detail"
249 Nakes Manggarai Dipecat Bupati Karena Tuntut Kenaikan Upah Mereka, Sebulan Hanya Digaji Rp400-600 Ribu
Lisa Blackpink Gabung Label AS, Bakal Debut Akting di White Lotus
Pantesan Pekerja Asing Diundang Masuk, Ternyata Uni Eropa Krisis Tenaga Kerja Terampil
CIA Buka Rekrutmen: Cek Kriteria yang Harus Dipenuhi Pelamar, termasuk Mampu Berbahasa Indonesia!
Prioritas Pengeluaran Milenial dan Gen Z Sekarang Bukan Lagi untuk Healing atau Belanja Barang Branded