77% Karyawan Terkena Dampak “Quiet Cutting”, Taktik Atasan Memaksa Karyawan untuk Resign

photo author
Felicitas Harmandini, Pejuang Kantoran
- Sabtu, 13 April 2024 | 21:44 WIB
Ilustrasi: Quiet cutting menjadi tren terbaru di dunia kerja, tetapi dampaknya merugikan karyawan. (Pexels/Khwanchai Phanthong)
Ilustrasi: Quiet cutting menjadi tren terbaru di dunia kerja, tetapi dampaknya merugikan karyawan. (Pexels/Khwanchai Phanthong)

Menurut Monster, 71% orang yang pernah menyaksikan pemotongan gaji secara diam-diam atau diberhentikan secara diam-diam, mengaku bahwa mereka kehilangan minat untuk tetap bekerja di perusahaannya dalam jangka panjang.

Sebanyak 80% responden mengatakan, mereka kehilangan rasa percaya atau loyalitas terhadap perusahaan.

Baca Juga: Baru Dirilis, Trailer Joker 2 Sudah Ditonton 167 Juta Kali

Kurangnya kepercayaan terhadap perusahaan akan mengakibatkan hilangnya semangat kerja, yang dapat membuat karyawan merasa tidak dianggap di tempat kerja.

Hal ini dapat membahayakan produktivitas tempat kerja, karena 58% pekerja yang mengalami quiet cutting jadi kurang termotivasi untuk melaksanakan tugas mereka.

Quiet cutting jelas merupakan tindakan yang kurang etis dan menunjukkan kurangnya penghargaan dan rasa hormat terhadap karyawan.

Sementara itu, quiet quitting dianggap sebagai cara karyawan untuk mengambil kembali kendali atas kehidupan kerja mereka.

Baca Juga: Lagi-lagi Gaya Busana Rishi Sunak Diprotes ketika Memadukan Adidas Samba dan Celana Ngatung

Dengan menolak memberikan upaya 100% untuk bekerja, mereka mendahulukan kebutuhan mereka sendiri dan mendapatkan kembali work-life balance yang sangat mereka butuhkan.

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Editor: Felicitas Harmandini

Sumber: Your Tango

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

X