PejuangKantoran.com - Kamu mungkin baru mendengar tentang praktik Quiet Cutting, istilah yang sekarang sedang menjadi tren terbaru di dunia kerja.
Namun kalau kamu mendengar istilah itu dalam Bahasa Indonesia, pasti kamu sering mendengarnya. Bahkan mungkin, pernah mengalaminya.
Baca Juga: Indonesia Menjadi Bagian dari Perjalanan Kepausan Paus Fransiskus yang Terlama September Nanti
Quiet cutting adalah taktik atasan yang cenderung pasif-agresif dalam menangani karyawannya. Mereka mengurangi beban kerja, tanggung jawab, atau gaji karyawan dalam upaya memaksa karyawan untuk resign atas kemauannya sendiri.
Quiet cutting kebalikan dari quiet quitting, istilah yang ramai digunakan pada 2023. Saat karyawan diam-diam berhenti (quiet quitting), mereka tidak meninggalkan pekerjaan secara resmi, tetapi mengurangi effort saat bekerja, dan hanya melakukan tugas seminimal mungkin.
Sementara itu menurut survei dari situs pencari kerja, Monster, quiet cutting sudah mempengaruhi 77% karyawan secara negatif. Mereka ini pernah menyaksikan pemotongan gaji secara diam-diam di tempat kerja mereka.
Kemudian, 58% karyawan melaporkan bahwa mereka pernah mengalami pemotongan gaji secara diam-diam, sehingga meninggalkan pekerjaan karena berkurangnya peran mereka.
Baca Juga: Kelebihan dan Kekurangan Bekerja di Industri Retail, Cek Apakah Sesuai dengan Kepribadianmu!
“Hal ini pada dasarnya mendorong mereka keluar –peran mereka yang diturunkan peringkatnya mendorong mereka untuk berhenti dengan sendirinya,” ujar pakar karir di Monster, Vicki Salemi, menjelaskan bagaimana pemotongan gaji diam-diam itu berdampak pada karyawan.
Menurut Salemi, quiet cutting sering kali terjadi di lingkungan kerja yang toxic, dan cenderung dilakukan dengan cara pasif-agresif.
Maraknya pemotongan gaji secara diam-diam ini tentu memberikan keuntungan bagi pemberi kerja, karena karyawan yang resign atas kemauannya sendiri tentunya tidak akan mendapat pesangon.
Praktik seperti ini berkembang ketika manajer tidak merasa perlu memberikan penjelasan langsung kepada karyawan atau tingkat transparansi apa pun seputar tujuan perusahaan.
Baca Juga: Mengenal Manajemen Retail, Bagaimana Strategi untuk Memudahkan Pelanggan Saat Berbelanja?
Melakukan quiet cutting membuat karyawan kehilangan kepercayaan pada manajemen, sehingga menciptakan kesan negatif secara keseluruhan di tempat kerja.
Data dari survei tersebut mengungkapkan bahwa pemecatan diam-diam membuat karyawan merasa tidak dapat mengandalkan tempat kerja untuk mendukung mereka.
Artikel Terkait
Dianggap Manajer Mikro, Elon Musk: “Produk yang Sempurna Butuh Perhatian terhadap Detail"
CIA Buka Rekrutmen: Cek Kriteria yang Harus Dipenuhi Pelamar, termasuk Mampu Berbahasa Indonesia!
Cara Ampuh Jaga Kolesterol Pasca Lebaran, Awas Sebentar Lagi Sudah Masuk Kantor
Adegan Memandikan Jenazah, dan 3 Fakta Menarik Lain Di Balik Pembuatan Film Siksa Kubur
Pegawai Museum Dipecat Usai Menggantung Karya Seninya Sendiri
Mau Kerja Full Remote sebagai Real Estate Sales Associate? Cek Lowongan Kerja The Kedungu Fund Ini!
Chronoworking, Tren Baru di Dunia Kerja yang Bikin Kamu Bisa Lebih "Tune In" Saat Bekerja?