5 Istilah Terapi Psikologi yang Mungkin Terlalu Sering Disalahgunakan dalam Pergaulan

photo author
Felicitas Harmandini, Pejuang Kantoran
- Senin, 6 Mei 2024 | 14:45 WIB
Ilustrasi: Banyak orang yang salah menerapkan istilah terapi psikologi seperti PTSD karena tidak memahami seberapa kompleksitasnya. (Liza Summer/Pexels)
Ilustrasi: Banyak orang yang salah menerapkan istilah terapi psikologi seperti PTSD karena tidak memahami seberapa kompleksitasnya. (Liza Summer/Pexels)

Sehubungan dengan itu, istilah “trauma bonding” sering digunakan secara tidak akurat. Istilah itu mengacu pada fenomena di mana “keterikatan emosional yang mendalam terbentuk antara korban dan pelaku kekerasan sebagai akibat dari siklus pengalaman traumatis atau pelecehan yang intens, dan diikuti dengan penguatan positif,” kata Jackson.

Hal ini sangat berbeda dengan apa yang biasa kita lihat tentang trauma bonding yang dibicarakan di media sosial.

Baca Juga: Kapan Kita Tahu bahwa Kita Terlalu Banyak Makan Keju? Ini Jawaban buat yang Takut Kolesterol Naik

Di dunia maya, istilah itu sering digunakan untuk menggambarkan dua orang yang terhubung melalui pengalaman sulit yang sama, seperti bekerja untuk bos yang menyebalkan, atau sedang mengalami perceraian.

3. Batasan/boundaries

Menetapkan batasan berarti menghormati kebutuhan kamu sendiri; bukan mengendalikan perilaku orang lain.

Boundaries membatasi apa yang secara pribadi ingin kamu lakukan atau toleransi,” kata psikoterapis asal Toronto, Britt Caron.

Boundary adalah sesuatu yang harus kamu tentukan sendiri –bukan sesuatu yang kamu paksakan untuk dipatuhi orang lain.”

Misalnya kamu orang yang biasa bangun pagi dan saat ini sedang menjalin hubungan dengan orang yang suka tidur malam.

Batasan kamu mungkin adalah menolak nongkrong yang dimulai setelah pukul 20.00 supaya kamu bisa tidur tepat waktu.

Baca Juga: Masalah Utama Pejuang Kantoran 9 To 5: Mata Kering Gara-gara Seharian Lihat Komputer dan HP

Namun, kamu tidak bisa meminta pasangan untuk tidak pergi pukul 20.00, kan? Itu lebih merupakan aturan, daripada batasan yang sehat.

4. PTSD

Post-Traumatic Stress Disorder (PTSD), atau gangguan stres pasca trauma, muncul ketika seseorang mengalami peristiwa yang dianggap lebih parah atau menakutkan daripada yang dialami kebanyakan orang dalam hidup sehari-hari.

Contohnya mungkin mengalami perang, pembajakan mobil, penyerangan, atau bentuk pelecehan lainnya, kata Dr Karen Lawson, asisten profesor di Departemen Psikiatri dan Ilmu Perilaku Menninger di Baylor College of Medicine.

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizinĀ redaksi.

Editor: Felicitas Harmandini

Sumber: The Conversation, Huffington Post, BCM.edu

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

X