Pejuangkantoran.com – Remote working atau kita kenal dengan istilah work from home (WFH) pasca pandemi menunjukkan tren kenaikan. Seperti yang tercatat dalam laman notta.ai, sejak 2021, karyawan yang memilih untuk remote working naik jumlahnya menjadi 24% dan hybrid naik menjadi 16%.
Sebesar 83% pekerja global lebih memilih untuk hybrid work. Sebanyak 59% pekerja lebih memilih perusahaan yang memberikan pilihan opsi remote working daripada yang tidak.
Secara global, 16% Perusahaan sudah melakukan remote working secara penuh dan 44% tidak ada remote working sama sekali. Peningkatan ini juga bisa terbaca pada meningkatnya sarana untuk remote working.
Pasar pemberi jasa tempat untuk remote working (mungkin kita kenal dengan istiah co-working space) akan tumbuh dari $20,1 miliar pada tahun 2022 menjadi $58,5 miliar pada tahun 2027 dengan CAGR (tingkat pertumbuhan per tahun) sebesar 23,8%.
Di Indonesia sendiri, seperti yang dicatat dalam laman goodstats.id, minat pekerja untuk bekerja full di kantor (WFO, work from office) hanya 9%. Semetara yang menginginkan WFH (work from home) sebanyak 23%. Paling besar adalah mereka menginginkan sistem hybrid yang menggabungkan keduanya, yaitu sebesar 68%.
Baca Juga: Penelitian: Gen Z Rela Dipotong Gaji Asal Bisa Sering WFH dan Bareng Anabul
Keuntungan remote working yang harus dipertimbangkan
Bisa jadi, ke depan, akan lebih banyak lagi perusahaan-perusahaan yang menerapkan remote working jika melihat keuntungan-keuntungan baik dari sisi karyawan, perusahaan, maupun lingkungan.
Keuntungan-keuntungan tersebut, seperti yang disampaikan di laman notta.ai adalah sebagai berikut:
- Remote worker (pekerja yang menerapkan remote working) menghemat waktu rata-rata 72 menit setiap hari dalam perjalanan, atau sekitar 6 jam per pekan;
- Di Amerika, rata-rata perusahaan di AS dapat menghemat $11,315 per tahun untuk setiap pekerja yang menerapkan remote working paruh waktu.
- Satu dari dua pekerja profesional (52%) akan menerima pemotongan gaji sebesar 5% atau lebih untuk mendapatkan fleksibilitas dalam menentukan lokasi kerja, sementara 23% akan menerima pemotongan gaji lebih dari 10%;
- Sebanyak 55% pekerja yang menerapkan remote working bekerja lebih lama dibandingkan bekerja di kantor;
- Hanya 20-25% perusahaan yang membayar biaya peralatan dan perabotan bekerja bagi pekerja yang menerapkan remote working;
- Remote working dapat mengurangi 54 juta ton emisi karbon ke atmosfer setiap tahunnya.
Baca Juga: Ternyata Bukan Gen Z yang Lebih Suka Work From Home!
Kendala remote working dan solusinya
Namun, di Indonesia WFH juga belum bisa diterapkan secara merata. Ini karena pendukung utama WFH, yaitu jaringan internet, sebarannya masih lebih banyak di wilayah perkotaan. Untuk jaringan 5G saja, seperti yang dimuat di laman tempo.co, layanan yang sudah ada sejak 2021 ini baru ada di kota-kota besar. Sementara itu, laporan dari Cohive, 23% pekerja mempunyai masalah dalam jaringan.
Namun, kendala ini kemungkinan besar bisa diatasi dengan munculnya koneksi internet dari konsumen yang langsung tersambung ke satelit sperti Starlink. Layanan seperti Starlink sangat bisa membantu untuk meningkatkan kualitas dan kuantitas koneksi internet di wilayah-wilayah pelosok.
Selain itu, gangguan saat bekerja di rumah (WFH) juga dialami oleh sekitar 28% pekerja saat mereka WFH. Sementara 15% di antaranya mengatakan bahwa mereka tidak memiliki ruang yang layak untuk WFH atau remote working.
Artikel Terkait
Workcation 2023: Ini Daftar Kota Terbaik Buat WFH dan Remote Jobs
Lowongan Kerja Arsitek (Revit) di Dankor Architecture, Bisa Work from Home Nih!
Resmi, Pemerintah Tetapkan Aturan ASN Boleh WFH Usai Cuti Bersama Lebaran! Ini Aturannya
Ketahuan Berbohong Saat WFH, Pegawai Asuransi Ini Dipecat Usai Laptopnya Dilacak Bos
Pejuang Kantoran Singapura Boleh WFH-WFA Mulai 1 Desember 2024