Maunya Sempurna, tapi Jadi Perfeksionis Malah Bikin Kamu Menunda-nunda Pekerjaan. Jangan Ya Dek Ya!

photo author
Felicitas Harmandini, Pejuang Kantoran
- Selasa, 26 November 2024 | 07:00 WIB
Ilustrasi: Perfeksionisme ternyata tidak selalu berdampak baik bagi proses kerja kita. (Freepik/Cookie_Studio)
Ilustrasi: Perfeksionisme ternyata tidak selalu berdampak baik bagi proses kerja kita. (Freepik/Cookie_Studio)

PejuangKantoran.com - Perfeksionisme adalah kepribadian yang dicirikan oleh kecenderungan untuk menetapkan tujuan yang sangat tinggi, kaku, atau "sempurna". Orang yang perfeksionis memberi tuntutan yang berlebihan pada diri sendiri dan orang lain. 

Psikoterapis Israa Nasir mengatakan bahwa sikap tersebut tak selalu baik karena bisa menghilangkan harga diri, kepercayaan diri, dan menyebabkan kecemasan.

Menurut Nasir, pola pikir perfeksionis memang memiliki manfaat, yaitu cenderung selalu ingin belajar lebih banyak dan sangat berorientasi pada tujuan. Namun, terlalu sering ingin menjadi sempurna bisa menjadi berbahaya.

Baca Juga: Tak Hanya Meningkatkan Kesejahteraan Keluarga, Agen Mitra UMi BRI di Merauke Ini Juga Membantu Perekonomian Masyarakat Sekitar

Ia menjelaskan, “Perhatian terhadap detail adalah keterampilan yang sangat penting, tetapi ketika hal tersebut tidak berfungsi dengan baik, itu bisa membuat orang tidak percaya dengan hasil kerjanya.”

Dalam banyak hal, orang yang perfeksionis bahkan memperlakukan dirinya sendiri dengan lebih kejam daripada atasan yang paling kejam.

“Alasan mengapa seorang perfeksionis tidak pernah merasa cukup baik adalah karena tiang gawangnya selalu bergerak,” Nasir memberikan perumpamaan.

Belum tentu bermanfaat

Mengapa perfeksionis tak selalu baik?

Salah satu ciri khas seorang perfeksionis adalah menunda-nunda. Ini mungkin berlawanan dengan intuisi untuk menjadi sempurna, tetapi begitulah kenyataannya.

Baca Juga: Kacang Disco Olahan Suparman Memberinya Penghasilan hingga Belasan Juta per Bulan

“Orang yang perfeksionis cenderung menunda-nunda pekerjaan karena mereka khawatir tidak mendapatkan hasil yang sempurna sehingga menunda-nunda pekerjaan yang seharusnya dilakukan,” kata Nasir.

Apalagi jika tempat kerja sangat menghargai kesempurnaan, yang membuat kamu terkadang terjebak pada detail-detail kecil dan menuntut untuk memenuhinya.

Belum lagi jika kamu membutuhkan orang lain agar diri kamu terlihat sempurna, ini bisa membuat kamu menderita.

Misalnya saat harus mengirim email, kamu mungkin menghabiskan waktu 40 menit untuk menulisnya, tetapi kemudian tidak menekan tombol "kirim" karena merasa tidak sempurna.

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Editor: Felicitas Harmandini

Sumber: Forbes, CBC Radio

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

X