Siap-siap, Fenomena Revenge Quitting alias Berhenti Bekerja Tiba-tiba akan Ramai Tahun 2025

photo author
Felicitas Harmandini, Pejuang Kantoran
- Senin, 23 Desember 2024 | 21:14 WIB
Ilustrasi: Apa yang memicu fenomena revenge quitting di tempat kerja? Atasan harus siap-siap! (Freepik)
Ilustrasi: Apa yang memicu fenomena revenge quitting di tempat kerja? Atasan harus siap-siap! (Freepik)

PejuangKantoran.com - Di akhir tahun ini, mulai ramai tren di dunia kerja yang diramalkan akan semakin banyak terjadi di 2025.

Namanya, “revenge quitting” atau jika diartikan dalam bahasa Indonesia adalah berhenti kerja untuk balas dendam. Terdengar menyeramkan, ya.

Tren ini dilakukan karyawan untuk mengekspresikan rasa frustrasi mereka di tempat kerja dan membalas cara kerja yang merugikan.

Baca Juga: Hindari Mengecek Email Kerja saat Sedang Cuti, Atasan Bisa Tetapkan Batasan dengan Cara Ini

Bisa dibilang, ini merupakan “pembalasan” dari tren quiet firing (pemecatan secara diam-diam) yang dilakukan oleh banyak perusahaan besar.

Apa maksudnya “revenge quitting”?

Tren pekerja yang melawan balik bisnis besar ini dilakukan dengan cara karyawan yang berhenti kerja secara tiba-tiba sebagai tanggapan atas pengalaman negatif yang dirasakannya.

Mulai dari kurangnya pengakuan atas pekerjaan yang dilakukan, burnout, atau ketidakterlibatan dengan budaya tempat kerja.

Para ahli mengatakan, revenge quitting merupakan hasil dari evolusi tempat kerja yang telah terjadi selama bertahun-tahun, bersamaan dengan kemajuan teknologi yang pesat dan perubahan ekspektasi pada generasi termuda saat ini.

John Scott, kepala desain dan strategi pembelajaran MasterClass at Work, berpendapat bahwa jika peningkatan revenge quitting terjadi di 2025 maka ini merupakan bentuk kesempatan bagi karyawan untuk pindah ke peluang baru yang lebih positif.

Baca Juga: Cek Jadwal Operasional Kantor Cabang BRI selama Libur Natal dan Tahun Baru 2024/2025

Apalagi, berdasarkan laporan Glassdoor Worklife Trends 2025, disebutkan ada 65% karyawan yang merasa terjebak dalam pekerjaan mereka saat ini.

Jika dibiarkan, laporan ini memprediksi bahwa kebencian yang terpendam akan meluap dan memicu gelombang berhenti kerja tiba-tiba pada 2025.

Karyawan semakin berani “balas dendam”

Selain menjadi cara karyawan untuk membalas dendam kepada perusahaan, konsultan senior Marais Bester menyebut platform seperti LinkedIn dan Glassdoor menjadi penyebab utama revenge quitting.

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizinĀ redaksi.

Editor: Felicitas Harmandini

Sumber: Forbes

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

X