Manajer Harus Waspada dengan Fenomena Soft Quitting. Amati Gejala-Gejalanya!

photo author
Sigit Triwahyu, Pejuang Kantoran
- Jumat, 17 Januari 2025 | 10:05 WIB
Gejala-gejala soft quiiting adalah karyawan mulai  berkurang inisiatifnya. (Freepik)
Gejala-gejala soft quiiting adalah karyawan mulai berkurang inisiatifnya. (Freepik)

Pejuangkantoran.com - Akhir-akhir ini, istilah “quiet quitting” ramai diperbincangkan dalam dunia kerja.

Istilah ini mengacu pada pekerja yang hanya menyelesaikan tugas sesuai deskripsi pekerjaan tanpa inisiatif untuk berkontribusi lebih.

Namun, ada masalah lain yang lebih serius dan terselubung, yaitu “soft quitting”.

Berbeda dengan “quiet quitting” yang lebih mudah dikenali, “soft quitting” terjadi secara perlahan dan tanpa disadari.

Perubahan perilaku tersebut muncul secara halus, tetapi dampaknya dapat melemahkan budaya kerja dan produktivitas secara bertahap, sehingga lebih sulit diatasi.

Baca Juga: Quite Quitting Cocok untuk Kaum Rebahan yang Tidak Berniat Menjadi Pemimpin di Perusahaan

Tanda-tanda “soft quitting”

Soft quitting” terjadi secara perlahan.

Tanda utamanya adalah pekerja yang dulunya aktif mulai berubah menjawab seadanya atau yang sebelumnya berinisiatif kini menunggu orang lain bertindak lebih dulu.

Di Tiongkok, fenomena ini sejalan dengan tren "lying flat", yaitu tren saat generasi muda cenderung memilih gaya hidup minimalis daripada terus menghadapi tekanan hidup modern.

Salah satu penyebab munculnya “soft quitting” adalah penolakan terhadap budaya kerja yang menuntut terus menerus. Tren ini disebut semakin meluas dan semakin banyak orang yang melakukannya.

Laporan menunjukkan bahwa dalam 10 tahun terakhir, gejala disengagement dalam dunia kerja ini semakin berkembang.

Perbedaan “soft quitting” dan “quiet quitting”

Quiet quitting” lebih mudah dikenali karena pekerja secara terang-terangan mengurangi usahanya dalam bekerja.

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizinĀ redaksi.

Editor: Sigit Triwahyu

Sumber: Forbes

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

X