Pejuangkantoran.com - Akhir-akhir ini, istilah “quiet quitting” ramai diperbincangkan dalam dunia kerja.
Istilah ini mengacu pada pekerja yang hanya menyelesaikan tugas sesuai deskripsi pekerjaan tanpa inisiatif untuk berkontribusi lebih.
Namun, ada masalah lain yang lebih serius dan terselubung, yaitu “soft quitting”.
Berbeda dengan “quiet quitting” yang lebih mudah dikenali, “soft quitting” terjadi secara perlahan dan tanpa disadari.
Perubahan perilaku tersebut muncul secara halus, tetapi dampaknya dapat melemahkan budaya kerja dan produktivitas secara bertahap, sehingga lebih sulit diatasi.
Baca Juga: Quite Quitting Cocok untuk Kaum Rebahan yang Tidak Berniat Menjadi Pemimpin di Perusahaan
Tanda-tanda “soft quitting”
“Soft quitting” terjadi secara perlahan.
Tanda utamanya adalah pekerja yang dulunya aktif mulai berubah menjawab seadanya atau yang sebelumnya berinisiatif kini menunggu orang lain bertindak lebih dulu.
Di Tiongkok, fenomena ini sejalan dengan tren "lying flat", yaitu tren saat generasi muda cenderung memilih gaya hidup minimalis daripada terus menghadapi tekanan hidup modern.
Salah satu penyebab munculnya “soft quitting” adalah penolakan terhadap budaya kerja yang menuntut terus menerus. Tren ini disebut semakin meluas dan semakin banyak orang yang melakukannya.
Laporan menunjukkan bahwa dalam 10 tahun terakhir, gejala disengagement dalam dunia kerja ini semakin berkembang.
Perbedaan “soft quitting” dan “quiet quitting”
“Quiet quitting” lebih mudah dikenali karena pekerja secara terang-terangan mengurangi usahanya dalam bekerja.
Artikel Terkait
Mendadak Ditunjuk Jadi Leader? Pelajari Cara Mengasah Keterampilan Leadership Kamu
3 Tanda Seseorang Punya Keterampilan Leadership yang Baik, Cocok Jadi Pemimpin!
Metode Unbossing Membuat Karyawan Lebih Mandiri, Betulkah akibat Posisi Manajer Berkurang?
4 Kesalahan Seorang Manajer Yang Gagal Dalam Mendelegasikan Tugas Kepada Anak Buah
5 Rahasia Sederhana di Balik Kepemimpinan Hebat, Jeff Bezos Juga Melakukan Ini, Lho!
5 Komponen Wajib dalam Menjalankan Metode Kepemimpinan Relasional yang Memanusiakan Karyawan
Inilah Pentingnya Menerapkan Kecerdasan Emosional atau EQ dalam Kepemimpinan Supaya Efektif