Konflik di Kantor Bisa Diubah Jadi Baik dengan Mengenali Dampaknya, Gini Kata Penulis 'The Friction Project'

photo author
Felicitas Harmandini, Pejuang Kantoran
- Kamis, 20 Februari 2025 | 08:17 WIB
Ilustrasi: Konflik di kantor sebenarnya adalah hal yang baik, namun kenali bagaimana caranya agar gesekan bisa berdampak baik. (Freepik/Yanalia)
Ilustrasi: Konflik di kantor sebenarnya adalah hal yang baik, namun kenali bagaimana caranya agar gesekan bisa berdampak baik. (Freepik/Yanalia)

PejuangKantoran.com - Kamu pasti sering menggunakan istilah good day jika menjalani hari tanpa masalah, dan bad day untuk hari yang entah mengapa penuh dengan masalah.

Ini membuat “gesekan” atau konflik di kantor seolah menjadi musuh yang bisa memperlambat diri. Namun, Bob Sutton tak setuju dengan pemikiran tersebut.

Psikolog organisasi dan penulis buku terlaris di New York Times, The Friction Project, ini berpendapat bahwa pendekatan terhadap konflik perlu dipikirkan ulang.

Baca Juga: Jangan Remehkan Foto Profil di LinkedIn. Agar Terlihat Profesional, Seperti Ini Seharusnya Foto Profilmu!

“Saat kita menghadapi masalah, kecenderungan alamiah kita adalah untuk terus maju. Namun, konflik sebenarnya adalah hal yang baik,” ujarnya.

Kuncinya adalah mengenali bagaimana caranya agar konflik di kantor bisa berdampak baik dan memutuskan untuk menghilangkannya jika memang buruk.

Membedakan konflik yang baik dan buruk

Sutton mendefinisikan "konflik yang buruk" sebagai hambatan yang membuat tindakan lebih lambat, lebih sulit, atau lebih membuat frustrasi tanpa menambahkan manfaat.

Konflik ini, yang disebut juga hambatan organisasi, biasanya baru terlihat jelas setelah mencarinya.

Salah satu penyebab paling umum dari gesekan yang buruk adalah rapat. Satu audit terhadap 25 perusahaan besar menyimpulkan bahwa sekitar 20% dari waktu supervisor dapat dihemat dengan mengurangi rapat yang tidak perlu.

Baca Juga: Dari Kebumen ke Dunia, Membawa Keindahan Alam Indonesia Melalui Inovasi Serat Pisang dan Pandan

Lalu, bagaimana dengan "konflik yang baik"? Ini juga bisa memperlambat, tetapi memiliki manfaat meningkatkan proses dan produk.

Contoh dari konflik yang baik adalah ketika menghalangi ide atau produk yang buruk untuk bergerak maju, seperti birokrasi organisasi. Departemen ini bisa menyebabkan gesekan, tetapi berpotensi menyelamatkan situasi.

Untuk membedakan konflik yang baik dan buruk, terkadang hal yang paling sederhana untuk dilakukan adalah mengevaluasi fungsinya. Sutton menekankan untuk mempertanyakan tujuan yang dibuat, apakah benar atau salah untuk dilakukan.

"Jika itu benar untuk dilakukan, seharusnya mudah dilakukan dan terjadi dengan cepat tanpa gesekan. Namun, jika itu salah, itu sulit atau bahkan tidak mungkin dilakukan," katanya.

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Editor: Felicitas Harmandini

Sumber: Big Think

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

X