Sebagai Pemimpin, Kamu Sebaiknya Belajar Tingkatkan Kecerdasan Emosional. Ini 5 Caranya!

photo author
Sigit Triwahyu, Pejuang Kantoran
- Rabu, 26 Februari 2025 | 11:14 WIB
Penuh rasa optimis adalah salah satu ciri orang yang mempunyai EQ yang baik. (Freepik)
Penuh rasa optimis adalah salah satu ciri orang yang mempunyai EQ yang baik. (Freepik)

Pejuangkantoran.com - Tahukah kamu kalau saat ini kecerdasan emosional menjadi salah satu keterampilan kerja yang menjadi persyaratan mutlak?

Kecerdasan emosional bahkan berada di posisi 10 besar, di atas keterampilan kognitif seperti pengambilan keputusan dan negosiasi.

Banyak survei manajer perekrutan dan profesional SDM yang menunjukkan bahwa mereka menghargai kecerdasan emosional daripada IQ yang tinggi.

Untuk meningkatkan EQ, berikut adalah lima sifat EQ penting yang dapat kamu ubah menjadi keterampilan kerja untuk sukses di tempat kerja, menurut pelatih eksekutif Marcel Schwantes.

  1. Apa yang membuat kamu stres?

Lakukan penilaian diri yang jujur terhadap situasi yang membuat kamu merasa terancam. Apa yang membuat kamu merasa seperti itu?

Orang yang paling cerdas secara emosional akan memproses pikirannya dengan hati-hati dan menelusuri sampai menemukan akar masalahnya, lalu turun ke bawah tingkat gejala untuk mengungkapkan inti dari apa yang dirasakannya.

Misalnya, kamu marah pada seorang rekan kerja. Ini mungkin emosi sekunder untuk emosi utama yang belum terselesaikan, baik yang baru atau sudah lama terjadi. Itulah mungkin sumber kemarahan dan kebencian yang harus kamu selidiki.

Baca Juga: Emotional Intelligence atau Emotional Quotient Sangat Penting di Tempat Kerja. Berikut Alasan-alasannya

  1. Beralih ke optimisme

Orang yang cerdas secara emosional adalah pemikir positif yang tidak terjebak dalam hal-hal yang tidak dapat mereka dikendalikannya. Energi dan upaya yang dimiliki justru akan dicurahkan ke hal-hal yang paling penting dalam hidup, misalnya hubungan.

Karena pemilik EQ tinggi secara alami optimis, penelitian telah menunjukkan bahwa mereka lebih sehat secara fisik dan psikologis daripada pesimis. Ini membuatnya juga berkinerja lebih baik di tempat kerja.

  1. Mengatasi konflik dengan soft skill

Menyeimbangkan empati dan kebaikan diri dengan kemampuan untuk bersikap tegas dan menetapkan batasan dengan orang lain, sangat ideal untuk mengelola konflik.

Ini karena menunjukkan perilaku yang baik sangat penting untuk menjaga hubungan yang sehat, ketegasan juga diperlukan untuk mencegah orang lain melanggar nilai-nilai atau kesepakatan bersama.

  1. Belajar mengelola emosi

Psikolog Daniel Goleman mengatakan, ini adalah tentang mengelola emosi dengan baik, yang mempertahankan kendali atas emosinya.

Jika kamu memiliki ini, tak akan banyak drama yang terjadi pada kamu di kantor dan justru kamu akan memiliki produktivitas sangat tinggi.

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizinĀ redaksi.

Editor: Sigit Triwahyu

Sumber: Inc.

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

X