Pejuangkantoran.com - Kamu mungkin sudah tidak asing dengan istilah quiet quitting. Ini merupakan sebutan untuk karyawan yang tidak benar-benar berhenti bekerja, tetapi memilih membatasi diri hanya dengan mengerjakan tugas utama.
Langkah ini sering dianggap sebagai cara menjaga batas pribadi dan mencegah burnout. Meski begitu, sikap ini juga bisa menjadi sinyal adanya frustasi yang belum terungkap dengan baik.
Fenomena ini disebut menjadi respons dari banyaknya tekanan dan kurangnya apresiasi yang dirasakan karyawan.
Walaupun bisa meredakan tekanan sementara, para ahli menilai bahwa quiet quitting bukan langkah yang efektif untuk jangka panjang.
Ada beberapa hal yang lebih disarankan untuk dilakukan lebih dulu sebelum memutuskan untuk berhenti diam-diam, yaitu:
- Fokus pada efisiensi kerja
Menjaga keseimbangan antara pekerjaan dan kehidupan pribadi atau work-life balance memang perlu, tetapi semangat kerja tetap harus dipertahankan.
Waktu yang dihabiskan untuk bekerja sebaiknya tetap dimanfaatkan sebaik mungkin dengan cara kerja yang efisien.
Dengan begitu, kamu tetap bisa berkembang dan menambah skill tanpa harus mengorbankan waktu dan energi secara berlebihan.
Jadi, sikap positif tetap penting dijaga, meski sedang memilih untuk fokus hanya pada tanggung jawab utama.
Baca Juga: Manajer Harus Waspada dengan Fenomena Soft Quitting. Amati Gejala-Gejalanya!
- Ambil kendali atas pertumbuhan diri
Tidak sedikit orang yang merasa jengkel atau kecewa dengan situasi kerja, lalu menjadikan quiet quitting sebagai bentuk pelampiasan.
Padahal, rasa ketidakpuasan itu sering kali muncul karena kelelahan atau merasa kurang dihargai. Sebelum menyalahkan lingkungan kerja, ada baiknya memahami dulu akar dari perasaan tersebut.
Mengenal alasan di balik rasa tidak bahagia bisa membuka jalan untuk menemukan solusi yang lebih tepat. Ini karena pertumbuhan pribadi tetap jadi tanggung jawab masing-masing.
- Bicarakan dengan atasan, bukan di media sosial
Daripada memendam atau mengunggahnya di media sosial, lebih baik menyampaikan langsung pada atasan.
Artikel Terkait
Quite Quitting Cocok untuk Kaum Rebahan yang Tidak Berniat Menjadi Pemimpin di Perusahaan
Hampir 1 dari 5 Karyawan Melakukan Loud Quitting di Tempat Kerja, Apa sih Maksudnya?
Buat Para Bos, Ini 5 Cara Agar Karyawan Tidak Memilih Quiet Quitting saat Bekerja
Sering Disebut Pekerja Keras, Ternyata Pekerja Jepang Peringkat Pertama Paling Banyak Quiet Quitting!
Siap-siap, Fenomena Revenge Quitting alias Berhenti Bekerja Tiba-tiba akan Ramai Tahun 2025
4 Penyebab Karyawan Melakukan 'Revenge Quitting' Selain Karena Konflik yang Terus-menerus