82% Pekerja Mengaku Mengalami Burnout, Ternyata Penyebabnya Karena Tekanan Bekerja dan Merawat Keluarga

photo author
Christina A.S, Pejuang Kantoran
- Jumat, 18 April 2025 | 11:15 WIB
Kenali burnout yang kamu alami agar tahu cara menyelesaikannya. (Freepik)
Kenali burnout yang kamu alami agar tahu cara menyelesaikannya. (Freepik)

Beberapa tunjangan yang paling populer adalah sumber daya kesehatan mental, serta tunjangan kesuburan dan pembangunan keluarga.

Banyak juga perusahaan yang memberikan dukungan pengasuhan melalui subsidi atau cakupan perawatan cadangan.

Dukungan Ini akan membantu karyawan mengelola masalah pengasuhan anak dan mengimbangi biaya perawatannya yang tinggi.

Namun, meskipun tunjangan ini semakin banyak, tidak semua perusahaan melihat tingkat pemanfaatan yang tinggi.

Laporan Care.com mengungkapkan bahwa ketika perusahaan menyediakan tunjangan yang disesuaikan dengan kebutuhan pengasuh, masih ada peningkatan retensi yang berpengaruh pada kinerja pekerja.

Baca Juga: Tupperware Indonesia Resmi Ditutup, Perusahaan bakal Disita Pemberi Pinjaman

Manfaat tunjangan anak untuk pekerja

Sekitar satu dari lima pekerja mengungkapkan bahwa mereka berhenti bekerja karena tidak adanya tunjangan anak atau bersedia pindah pekerjaan untuk mendapatkan tunjangan tersebut.

Di antara pekerja yang menerima tunjangan ini, ada 45% pekerja yang melaporkan peningkatan produktivitas dan 40% mencatat penurunan tingkat ketidakhadiran.

Dampak emosionalnya juga cukup besar, dengan lebih dari separuh pekerja merasa terbantu dalam meningkatkan kualitas hidup, memperbaiki work-life balance, dan mengurangi stres.

Laporan tersebut juga menunjukkan bahwa pekerja dan pemberi kerja memiliki harapan yang sama, yaitu perusahaan seharusnya membantu keluarga dalam mengelola biaya pengasuhan.

Untuk itu, perusahaan sebaiknya perlu meluangkan waktu untuk memahami kebutuhan spesifik pekerja mereka. (Elga Windasari)

 

 

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizinĀ redaksi.

Editor: Christina A.S

Sumber: Fast Company

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

X