Sebuah penelitian menemukan bahwa ketika kepemimpinan yang didorong oleh krisis mendominasi akan menyebabkan karyawan mengalami hal ini:
• Stres kronis dan kelelahan karena selalu berada dalam kondisi terdesak.
• Tidak sanggup mengambil keputusan karena pergeseran prioritas yang terus-menerus.
• Ketidakterlibatan dan perputaran karyawan karena kecewa dengan kurangnya stabilitas.
• Hilangnya fokus strategis karena tim berfokus pada jangka pendek, bukan pertumbuhan jangka panjang.
Baca Juga: Buat Apa Sih, Pramugari Meminta Membuka Penutup Jendela di Pesawat Saat Takeoff dan Landing?
Dalam kasus terburuk, gaya kepemimpinan ini membuat karyawan yang berbakat pergi dan atasan harus berjuang lebih keras lagi.
Sedihnya, dia tetap memiliki keyakinan bahwa hanya dirinya yang dapat melakukan semuanya.
Justru mendapat apresiasi dari para petinggi
Jebakan besar lainnya yang juga bisa terjadi adalah ketika api telah padam, atasan seperti ini akan mendapatkan penghargaan dari aksi heroik yang dilakukannya.
Oleh para pemimpin yang lebih tinggi, atasan diberi penghargaan atas kemampuannya “memadamkan api”, yang semakin memperkuat perilakunya.
Akibatnya, karyawan tidak hanya merasa kelelahan, tetapi juga diabaikan dan diremehkan.
Jika firefighter boss ini terus berkuasa, masalah di tempat kerja akan semakin parah dan melanggengkan kepemimpinannya yang toxic itu.
Artikel Terkait
Siapa yang Dimaksud Reza Rahadian sebagai "Mereka" dalam Buku Pertamanya, 'Mereka yang Pertama'?
7 Tanda Kamu Mengalami Money Dysmorphia, Gara-gara Selalu Membandingkan dengan Orang Lain
Langkah-Langkah Sistematis Yang Bisa Membantu Mengidentifikasi Masalah Secara Persis!
Ingin Rutin Olahraga Jalan Kaki? Lebih Baik Beli Sepatu yang Tepat, Jangan Asal!
Jangan Biarkan Kamu Jadi Terbiasa Hidup dengan Rasa Nyeri di Tubuh, Ini yang Harus Dilakukan!
Prabowo Akan Hapus Sistem Outsourcing, Buruh dan Pengusaha Bakal Duduk Bareng
Keterampilan Logical Reasoning Sangat Dibutuhkan Dalam Pekerjaan. Berikut Cara Meningkatkannya!