Firefighter Boss yang Bikin Karyawan Burnout, Baru Terlihat 'Kerja' kalau Lagi Ada Krisis

photo author
Elga Windasari, Pejuang Kantoran
- Senin, 5 Mei 2025 | 11:07 WIB
Ilustrasi: Firefighter boss cenderung baru bertindak ketika ada situasi darurat, dan tidak pernah berusaha mencegah sebelum hal itu terjadi. (Freepik)
Ilustrasi: Firefighter boss cenderung baru bertindak ketika ada situasi darurat, dan tidak pernah berusaha mencegah sebelum hal itu terjadi. (Freepik)

Sebuah penelitian menemukan bahwa ketika kepemimpinan yang didorong oleh krisis mendominasi akan menyebabkan karyawan mengalami hal ini:

• Stres kronis dan kelelahan karena selalu berada dalam kondisi terdesak.
• Tidak sanggup mengambil keputusan karena pergeseran prioritas yang terus-menerus.
• Ketidakterlibatan dan perputaran karyawan karena kecewa dengan kurangnya stabilitas.
• Hilangnya fokus strategis karena tim berfokus pada jangka pendek, bukan pertumbuhan jangka panjang.

Baca Juga: Buat Apa Sih, Pramugari Meminta Membuka Penutup Jendela di Pesawat Saat Takeoff dan Landing?

Dalam kasus terburuk, gaya kepemimpinan ini membuat karyawan yang berbakat pergi dan atasan harus berjuang lebih keras lagi.

Sedihnya, dia tetap memiliki keyakinan bahwa hanya dirinya yang dapat melakukan semuanya.

Justru mendapat apresiasi dari para petinggi

Jebakan besar lainnya yang juga bisa terjadi adalah ketika api telah padam, atasan seperti ini akan mendapatkan penghargaan dari aksi heroik yang dilakukannya.

Oleh para pemimpin yang lebih tinggi, atasan diberi penghargaan atas kemampuannya “memadamkan api”, yang semakin memperkuat perilakunya.

Akibatnya, karyawan tidak hanya merasa kelelahan, tetapi juga diabaikan dan diremehkan.

Jika firefighter boss ini terus berkuasa, masalah di tempat kerja akan semakin parah dan melanggengkan kepemimpinannya yang toxic itu.

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizinĀ redaksi.

Editor: Felicitas Harmandini

Sumber: Harvard Business Review

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

X