Baik WFO, WFA, atau Hybrid, Ini 3 Strategi Pemimpin untuk Ciptakan Budaya Kerja Fleksibel pada Karyawan

photo author
Elga Windasari, Pejuang Kantoran
- Kamis, 26 Juni 2025 | 10:10 WIB
Yang sangat menentukan dalam berhasil tim baik WFH, WFO, atau hybrid adalah strategi jitu dari manajer. (Google Gemini)
Yang sangat menentukan dalam berhasil tim baik WFH, WFO, atau hybrid adalah strategi jitu dari manajer. (Google Gemini)

Pejuangkantoran.com - Sebenarnya, tidak ada satu pendekatan yang cocok mengenai cara kerja fleksibel untuk semua jenis pekerjaan fleksibel. Strategi terbaik untuk satu perusahaan mungkin tidak cocok untuk perusahaan lain.

Pada akhirnya, membahas cara pengaturan kerja yang fleksibel pada dasarnya bermuara pada memiliki manajer yang baik.

Ini karena manajer yang hebat hampir empat kali lebih penting daripada lokasi kerja dalam hal keterlibatan dan kesejahteraan karyawan.

Berikut adalah tiga strategi untuk meningkatkan kemampuan manajer dalam meningkatkan keterlibatan dan kesejahteraan karyawan, apa pun cara kerja mereka.

  1. Pahami cara kerja yang disukai karyawan

Perusahaan perlu memahami preferensi karyawan tentang bagaimana mereka ingin pekerjaan dan kehidupannya berjalan bersama.

Kesalahpahaman terbesar tentang kerja fleksibel adalah bahwa karyawan menyamakan fleksibilitas dengan keinginan untuk menggabungkan pekerjaan dan kehidupan pribadi mereka di siang hari.

Baca Juga: Kini, Keleluasaan Jadi Syarat Penting Sepanjang WfO atau Bekerja dari Kantor

Menurut Gallup, ada dua jenis fleksibilitas yang diinginkan karyawan, yaitu:

  • Bekerja dari pukul 9 pagi – 5 sore dan melakukan aktivitas kehidupan lainnya sebelum atau sesudah bekerja, disebut “splitter”;
  • Bergantian antara melakukan pekerjaan dan aktivitas kehidupan lainnya sepanjang hari, disebut “blender”.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa 50% tenaga kerja di AS lebih memilih untuk menjadi “splitter” dan 50% lebih memilih untuk menjadi “blender”.

Memahami preferensi ini sangat penting karena jika tidak diwujudkan dapat menyebabkan keterlibatan yang lebih rendah, perasaan tidak dihargai, dan lebih banyak kelelahan.

Bahkan, ada 60% responden yang mengatakan bahwa mempertimbangkan atau secara aktif mencari pekerjaan baru jika preferensinya tak terpenuhi.

  1. Beralih dari “program” ke “pembicaraan”

Perusahaan biasanya menawarkan program dan layanan kesejahteraan, yang sayangnya tidak memenuhi sebagian besar kebutuhan karyawan.

Meski pemimpin berpikir program tersebut sangat baik, tetapi sangat sedikit karyawan yang menggunakannya. Hanya menyediakan program, justru membuat karyawan merasa perusahaan tidak peduli dengan kesejahteraan mereka.

Pemimpin harus paham kalau kepedulian bukanlah sebuah program, melainkan sebuah hubungan. Khususnya antara karyawan dengan manajer.

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizinĀ redaksi.

Editor: Sigit Triwahyu

Sumber: Gallup

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

X