8 Kebiasaan agar Terlihat sebagai Karyawan 'Penting, Padahal Justru Membuat Nggak Profesional

photo author
Felicitas Harmandini, Pejuang Kantoran
- Sabtu, 19 Juli 2025 | 08:05 WIB
Tak hanya kepada karyawan yang kena PHK, pemimpin juga wajib mengarahkan dengan tepat kepada karyawan yang tidak terkena PHK. (Google Gemini)
Tak hanya kepada karyawan yang kena PHK, pemimpin juga wajib mengarahkan dengan tepat kepada karyawan yang tidak terkena PHK. (Google Gemini)

PejuangKantoran.com - Di lingkungan kerja, citra diri sering kali dianggap sama pentingnya dengan kinerja.

Banyak yang berupaya keras agar terlihat berpengaruh, sibuk, atau memiliki posisi penting. Kenyataannya, beberapa justru memperlihatkan sikap yang tidak profesional.

Ini karena profesionalisme sejati tidak bergantung pada pencitraan, melainkan terlihat dari konsistensi, sikap, dan hasil kerja yang nyata.

Baca Juga: Buat yang Pengalaman di Digital Lending, Allo Bank Buka Lowongan Kerja Product Manager – Auto Loan

Berikut adalah beberapa kebiasaan yang sering dianggap sebagai karyawan teladan, padahal bisa merusak kesan profesional di tempat kerja.

1. Terlalu menonjolkan kesibukan

Tampak terburu-buru, banyak mengeluh, atau terus-menerus sibuk belum tentu menjadi tanda produktivitas yang sebenarnya. Gaya seperti ini lebih sering menciptakan kesan panik dan tidak terorganisir.

Ini karena profesional yang matang mampu tetap tenang, terbuka dalam berkomunikasi, dan menjaga hubungan kerja yang positif, meskipun berada dalam situasi penuh tekanan.

2. Menggunakan istilah rumit secara berlebihan

Komunikasi yang baik tidak diukur dari seberapa rumit bahasanya. Penggunaan jargon atau istilah teknis yang tidak perlu justru memperumit pesan dan membuat orang lain merasa tidak dilibatkan.

Baca Juga: Lowongan Kerja Senior iOS Developer di Mitramas Infosys Global

Ide yang disampaikan secara jelas dan langsung pada inti permasalahan biasanya lebih dihargai daripada usaha tampil pintar semata.

3. Sering menyebut nama orang penting

Sering menyebut hubungan dekat dengan atasan dalam percakapan tidak otomatis memperkuat kesan profesional.

Ketergantungan pada koneksi sebagai validasi diri cenderung memperlihatkan keraguan atas kemampuan sendiri.

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizinĀ redaksi.

Editor: Felicitas Harmandini

Sumber: Your Tango

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

X