5 Jebakan Imposter Syndrome yang Tidak Kamu Sadari, serta Cara Keluar dari Jeratnya!

photo author
Elga Windasari, Pejuang Kantoran
- Selasa, 12 Agustus 2025 | 18:35 WIB
Ilustrasi: Ketika kamu merasa tidak yakin dengan kemampuan dirimu sendiri karena gunjingan orang lain, itu tanda kamu terkena imposter syndrome. (PejuangKantoran.com/Made with Google AI)
Ilustrasi: Ketika kamu merasa tidak yakin dengan kemampuan dirimu sendiri karena gunjingan orang lain, itu tanda kamu terkena imposter syndrome. (PejuangKantoran.com/Made with Google AI)

PejuangKantoran.com - Sudah melakukan berbagai pencapaian, tetapi masih saja merasa tidak percaya diri. Apa lagi kalau ada rekan kerja yang meragukan bahwa semua pencapaian itu adalah hasil kerja kerasmu sendiri.

Yang terjadi kemudian, kamu jadi bertanya-tanya apakah kamu memang tidak sepintar yang kamu kira. Kalau kamu pernah mengalami hal tersebut, itu tanda-tanda kamu terkena imposter syndrome atau sindrom penipu.

Sindrom penipu ini sering membuat kamu jadi tidak percaya pada kemampuan diri sendiri, sehingga susah mencapai tujuan.

Baca Juga: Pendaftaran Beasiswa Chevening 2026–2027 Resmi Dibuka! Kirimkan Lamaran Kamu sebelum 7 Oktober 2025

Agar tidak terus terkena jebakan imposter syndrome, ketahui ciri-ciri dari orang yang mengalami sindrom penipu:

1. Perfeksionis dengan proses yang sedang dijalani

Jebakan:
Kamu cenderung ingin semua berjalan sempurna. Begitu rencana sedikit meleset, langsung merasa gagal. Misalnya, kamu mau menyelesaikan pekerjaan yang cukup sulit selama tiga hari, tetapi ternyata meleset jadi lima hari. Hal itu langsung membuat kamu merasa drop dan menganggap diri sebagai karyawan yang tidak bisa diandalkan.

Cara untuk keluar:
Mulai saja dari hal-hal kecil. Kalau sebelumnya kamu tidak pernah melakukan pekerjaan itu, jangan langsung memasang target yang tidak realistis. Setelah konsisten mengerjakannya, baru percepat target pengerjaannya.

2. Semua dilakukan sendiri

Jebakan:
Sebagai penderita sindrom penipu, kamu sering jadi “pemain tunggal”. Maunya mengerjakan semuanya sendirian agar diakui. Akibatnya, kamu lebih dekat dengan pikiran negatif dan tidak ada yang mengingatkan kalau kamu sebenarnya sudah hebat.

Baca Juga: 5 Tipe Bos yang Bisa Memicu Imposter Syndrome, Bagaimana Cara Terbaik Menghadapinya?

Cara untuk keluar:
Cari teman terpercaya, mentor, atau pelatih yang bisa memberikan dukungan, solusi, dan dorongan semangat. Proses ini membuat pekerjaan jadi lebih ringan dan target lebih mudah tercapai.

3. Beri reward untuk diri sendiri

Jebakan:
Kamu jarang sekali mau memberikan penghargaan untuk diri sendiri. Ini membuat apapun yang kamu jalani terasa sebagai beban, tanpa momen menyenangkan.

Cara untuk keluar:
Buat target mingguan dan berikan diri sendiri hadiah kecil setiap kali berhasil. Tak perlu mewah, bisa sekadar membeli makanan favorit atau waktu santai ekstra.

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Editor: Felicitas Harmandini

Sumber: Dynamic Transition

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

X