5 Efek Buruk Sikap Keras Kepala di Kantor yang Sering Diremehkan, tetapi Bisa Mematikan Kreativitas!

photo author
Elga Windasari, Pejuang Kantoran
- Selasa, 26 Agustus 2025 | 08:06 WIB
Ilustrasi: Sikap keras kepala seseorang terkadang membuat rekan kerja enggan memberi ide-ide lagi karena selalu ditolak. (Freepik)
Ilustrasi: Sikap keras kepala seseorang terkadang membuat rekan kerja enggan memberi ide-ide lagi karena selalu ditolak. (Freepik)

PejuangKantoran.com - Kamu mungkin sering berdebat dengan pasangan, sahabat, atau saudara, tetapi ujung-ujungnya lupa sebenarnya apa yang sedang diperdebatkan. Akhirnya, malah ketawa bareng. 

Sayangnya, kalau hal seperti itu terjadi di tempat kerja, ceritanya akan berbeda. Kalau yang keras kepala itu atasan atau rekan kerja, suasana kantor bisa jadi kaku, penuh drama, bahkan membuat perkembangan tim berhenti di tempat.

Apalagi kalau sifat keras kepala ditambah dengan ego tinggi, hal itu terkadang menimbulkan beda pendapat yang membuat pekerjaan berantakan.

Baca Juga: Dari Santai ke Formal, Ini 4 Contoh Email Ucapan Perpisahan Kerja yang Tetap Profesional

Kamu pasti pernah bertemu orang seperti itu di dunia kerja. Apa dampak negatif yang bisa terjadi jika ada atasan atau rekan kerja yang keras kepala?

1. Buang-buang waktu dan menghilangkan kepercayaan

Kebanyakan sifat keras kepala ini justru datang dari pemimpin. Kadang atasan merasa cara dia selalu benar karena sudah terbukti sebelumnya. Padahal, situasi bisa berubah, dan ide tim juga layak didengar.

Kalau sudah bersikap kepala batu seperti ini, akhirnya banyak waktu terbuang hanya untuk “ngotot” mengenai satu cara. Ini bisa membuat tim kehilangan semangat dan kepercayaan pun turun.

2. Proyek jadi jalan di tempat

Keras kepala sering muncul dalam bentuk micromanaging alias terlalu mengatur detail kecil.
Ini membuat setiap pekerjaan harus lewat persetujuan si keras kepala ini.

Baca Juga: Cara Instan Bangun Kepercayaan Atau Trsut di Tempat Kerja, Mulai dari 7 Kebiasaan Sederhana Ini!

Kedengarannya rapi, tetapi sebenarnya ini membuat pekerjaan melambat. Lebih baik memberikan kepercayaan pada tim, daripada semuanya harus dikontrol satu orang.

3. Tim jadi tidak harmonis

Setiap orang pasti punya ide brilian. Idealnya, ide itu dibawa ke tim, lalu dipoles bersama agar makin sempurna. Namun, untuk si keras kepala, ide aslinya merupakan yang terbaik sehingga mengabaikan ide lainnya. Hasilnya?

Tim merasa percuma brainstorming berjam-jam karena akhirnya adalah “ide saya atau tidak sama sekali”. Hubungan jadi tidak sehat, tim juga jadi malas memberikan ide lagi.

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizinĀ redaksi.

Editor: Felicitas Harmandini

Sumber: Career Contessa

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

X