Loud Leaving, Tren Baru yang Katanya Bisa Membuat Budaya Kerja Lebih Sehat. Benarkah?

photo author
Elga Windasari, Pejuang Kantoran
- Kamis, 18 September 2025 | 08:10 WIB
Ilustrasi Kerja (pexels)
Ilustrasi Kerja (pexels)

Dampak positif buat kamu

Kebiasaan ini bisa membantu kamu membuat batas yang jelas antara kerja dan kehidupan pribadi.

Pulang di jam yang wajar membantu kamu jadi memiliki waktu untuk istirahat, recharge tenaga, atau sekadar melakukan hal-hal kecil yang kamu suka.

Kamu bisa lebih siap menghadapi hari kerja berikutnya dengan pikiran yang segar.

Buat kamu yang baru mulai bekerja, melihat rekan kerja pulang tepat waktu membuat lebih nyaman dan tidak merasa bersalah.

Ini juga memberi sinyal bahwa punya kehidupan di luar kantor itu normal. Suasana kantor pun bisa jadi lebih enak karena semua orang punya ritme kerja yang lebih seimbang.

Kritik terhadap loud leaving

Walaupun niatnya baik, tidak semua orang setuju loud leaving itu solusi.

Kalau kamu masih harus melihat orang lain terlebih dulu untuk tahu kapan waktunya pulang, berarti budaya kerja di kantor mungkin belum benar-benar sehat.

Ini menandakan ekspektasi lembur masih ada, walaupun tidak diucapkan secara langsung.

Kondisi ini bisa menyebabkan kamu tambah stres karena merasa harus cepat-cepat menyelesaikan pekerjaan.

Lama-lama kualitas kerja justru dapat menurun karena kamu lebih fokus buru-buru daripada menghasilkan pekerjaan terbaik.

Tekanan seperti ini justru bisa membuat kamu semakin lelah dan mudah burnout.

Baca Juga: Nick Cannon Akui Punya 12 Anak sebagai Respons atas Trauma

Solusi yang lebih sehat

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Editor: Christina A.S

Sumber: Time Doctor

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

X