Ketika “Perusahaan Impian” Berubah Haluan, Mengapa Karyawan Merasa Dikhianati?

photo author
Elga Windasari, Pejuang Kantoran
- Rabu, 1 Oktober 2025 | 17:10 WIB
Ketika perusahaan-perusahaan impian  (Pejuangkantoran.com/Made with Google AI)
Ketika perusahaan-perusahaan impian (Pejuangkantoran.com/Made with Google AI)
  1. Etsy: Dari idealis ke lebih korporat

Etsy dulu dikenal sebagai surga bagi pengrajin independen, bahkan sempat jadi B-Corp. Namun, setelah IPO mereka kurang sukses, manajemen baru masuk dan mulai melakukan efisiensi, yaitu pemecatan besar-besaran dan budaya yang lebih kaku.

Banyak karyawan kecewa karena merasa perusahaan meninggalkan misi awalnya.

  1. Google: Terlalu besar untuk tetap “baik”

Slogan “Don’t Be Evil” dulu jadi ikon Google. Namun, ketika perusahaan tumbuh jadi raksasa dengan 100 ribu lebih karyawan, budaya pun ikut berubah. Lebih birokratis, lebih bisnis, dan lebih sering diterpa skandal.

Kini banyak orang melihat Google tidak lagi idealis seperti dulu. Lucunya, hal itu tidak menghentikan orang melamar kerja di sana karena stabilitasnya yang tetap menarik.

  1. Zappos: Eksperimen holacracy yang diam-diam dihentikan

Zappos dulu terkenal karena sistem kerja tanpa bos alias holacracy. Namun, sistem itu pelan-pelan mereka tinggalkan tanpa pengumuman besar. Banyak karyawan memilih mundur saat perubahan dimulai.

Kini Zappos lebih mirip perusahaan biasa, tanpa narasi romantis soal “budaya unik”.

Baca Juga: Tren Kerja Tanpa Batas Bikin Kita Bisa Kerja di Perusahaan Global tanpa Harus Pindah Negara

Budaya perusahaan bisa berubah

Kesimpulannya, perusahaan bukan makhluk statis. Mereka bisa berubah karena tekanan finansial, pergantian kepemimpinan, atau tuntutan pertumbuhan. 

Sayangnya, perubahan itu sering terasa menyakitkan bagi karyawan yang dulu percaya pada visi awal.

Untuk itu, karyawan sebaiknya jangan terlalu percaya pada janji budaya perusahaan, tetapi lihat juga model bisnisnya. Sebagai karyawan, kamu perlu menyiapkan diri bahwa tempat kerja yang ideal bisa berubah kapan saja. ***

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Editor: Sigit Triwahyu

Sumber: Welcome to the Jungle

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

X