Seorang karyawan merasa harus selalu membalas WhatsApp kantor meskipun sudah malam, akhir pekan, atau sedang bersama keluarga.
Hal ini terjadi karena:
- Ada sebuah norma dalam tim yang tidak disadari yang mengondisikan “Siapa yang cepat membalas, dia akan dianggap rajin.”
- Atasan sering mengirim pesan di luar jam kerja.
- Tidak ada aturan kapan komunikasi kerja boleh dilakukan, kapan tidak boleh.
Artinya, si karyawan dengan pola kerja always-on work culture ini tidak selalu menunjukkan dedikasi dan kapasitasnya, namun karena alasan-alasan di atas.
Msalahnya, kasus semacam ini tak hanya berdampak pada personal si karyawan namun juga bisa merembet kepada anggota keluarga lain. Seperti yang ditunjukkan dalam studi oleh Derks et al. (2014).
Studi ini menunjukkan bahwa work-related smartphone use after hours atau pemanfaatan smartphone untuk urusan kerja di luar jam kantor, bisa meningkatkan work–family conflict dan menurunkan well-being.
Baca Juga: 5 Tipe Pekerja yang Paling Diuntungkan dengan Pelacakan Work-life Balance
Dalam konsep boundary theory yang dikemukakan oleh Ashforth et al. (2000) menjelaskan bahwa tanpa batasan tegas, orang cenderung “terhisap” ke satu domain (kerja) dan mengorbankan domain lain (kehidupan pribadi).
Banyak riset menunjukkan efek negatif dari always-on work culture ini, yaitu:
- Peningkatan burnout;
- Work-family conflict:
- Menurunnya kualitas tidur;
- Penurunan produktivitas jangka panjang.
Bagaimana cara mengatasi kasus seperti ini?
- Tetapkan communication window
Misal: “Saya balas pesan yang sifatnya non-urgent besok pukul 09.00.” Pendekatan boundary control seperti ini terbukti mengurangi stres kerja. - Gunakan pesan otomatis / delay send
Tools ini terbukti mengurangi tekanan psikologis karena menurunkan ekspektasi respons cepat. - Negosiasi aturan tim
Riset yang dilakukan oleh Kossek dan Lautsch pada tahun 2018, menunjukkan bahwa team norm setting menurunkan risiko burnout hingga 32%.
***
Artikel Terkait
Ketika Kolega Kantor Alami Masalah Mental Health, Lakukan 6 Langkah Ini Sebagai Teman Atau Atasan
Bukan Hanya Karyawan yang Harus Mengusahakan Work-Life Balance, tapi juga Atasan
Jadi People Pleaser di Kantor Bisa Bikin Kamu Burnout, Ini Cara untuk Menghentikannya!
82% Pekerja Mengaku Mengalami Burnout, Ternyata Penyebabnya Karena Tekanan Bekerja dan Merawat Keluarga
Jangan Remehkan Bestie di Tempat Kerja, Mereka yang Membantu Kamu Menghindari Burnout!
3 Cara Memandang Work-Life Balance: Jangan Memaksa Melakukan Semua Hal secara Bersamaan