Nggak Semua yang Mendesak Itu Penting, Karyawan Perlu Menentukan Skala Prioritas dalam Bekerja!

photo author
Elga Windasari, Pejuang Kantoran
- Jumat, 9 Mei 2025 | 22:02 WIB
Ilustrasi: Atasan harus bisa menentukan skala prioritas, agar karyawan tidak menganggap semua tugas harus dilakukan dalam waktu bersamaan. (Freepik/Way Home Studio)
Ilustrasi: Atasan harus bisa menentukan skala prioritas, agar karyawan tidak menganggap semua tugas harus dilakukan dalam waktu bersamaan. (Freepik/Way Home Studio)

PejuangKantoran.com - Menentukan skala prioritas tidaklah mudah. Apalagi untuk memilih pekerjaan mana yang harus didahulukan, di saat semuanya terasa sama pentingnya.

Bahkan dengan tujuan yang jelas, prioritas bisa sulit dilakukan jika emosi ikut terlibat.
Inilah yang membuat banyak orang mengatakan “ya” untuk pekerjaan yang bukan jadi tanggung jawabnya, entah karena ingin membantu, menghindari konflik, atau membuktikan nilai diri.

Padahal, melakukan ini tanpa memedulikan prioritas hanya akan memberikan hasil yang mengecewakan.

Baca Juga: Mengapa Pilihan Nama 'Leo' Dianggap Sangat Pas untuk Paus Baru yang Memimpin Gereja Saat Ini?

Prioritas untuk melakukan yang lebih penting

Laura Huang, profesor Harvard dan penulis Edge, memiliki cara agar para profesional mampu mengelola persepsi dan menggunakan kecerdasan emosional untuk menghadapi tekanan prioritas.

"Kamu tidak selalu bisa mengontrol seberapa banyak pekerjaan yang datang, tetapi kamu dapat membentuk bagaimana orang lain melihat nilai diri kamu," katanya.

Wawasan ini sangat berguna bagi kamu yang merasa berkewajiban untuk mengambil semua pekerjaan untuk menjaga reputasimu.

Di sinilah pentingnya menentukan skala prioritas, yaitu untuk melakukan apa yang lebih penting.

Prioritas memutus siklus urgensi konstan

Baca Juga: BRI Dukung Pendidikan di Daerah 3T, Bawa Teknologi ke Sekolah di Lombok Utara

Banyak tempat kerja yang terbiasa beroperasi dengan situasi mendesak yang terus-menerus. Padahal, tidak semua yang terasa mendesak itu penting.

Itulah sebabnya pemimpin yang tidak membedakan antara keduanya akan menciptakan budaya kerja yang sibuk, bukan yang berdampak.

Untuk mengubahnya, tim perlu menormalisasi pertanyaan ini saat membuat komitmen dalam bekerja:

• Apa dampaknya jika kamu tidak melakukan pekerjaan yang disuruh atasan?
• Pekerjaan apa yang lebih baik dilakukan, yang bukan disuruh oleh atasan?
• Apakah pekerjaan yang kamu prioritaskan ini sudah tepat?

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Editor: Felicitas Harmandini

Sumber: Forbes

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

X