- “Ya, itu seperti yang tadi disampaikan oleh Pak X—kita bisa lanjutkan dari situ.”
Atau:
- “Menarik, saya senang ide tadi bisa kita kembangkan.”
Prinsip: kembalikan atribusi tanpa mempermalukan orang ini.
- The Passive-Aggressive (Si Sindiran Halus)
Orang dengan perilaku seperti ini terlihat sering memberikan komentar bernada sindiran. Komentarnya tidak langsung, tapi terasa menyerang dan disampiakan dengan bahasa yang ambigu.
Bisa jadi, yang bersangkutan melakukan hal tersebut karena frustrasi terpendam, tidak berani melakukan konfrontasi langsung, atau sengaja melakukan politik kantor.
Untuk menghadapinya gunakan direct clarification, misal:
- “Agar jelas, apakah maksudnya ada yang perlu saya perbaiki?”
Jika berulang:
- “Lebih membantu jika disampaikan langsung poinnya.”
Prinsip: paksa komunikasi jadi eksplisit.
Baca Juga: Di-Ghosting Rekan Kerja? Hadapi Pakai 4 Cara Ini!
- The Non-Responder in Groups (Si Pasif di Grup)
Ini sering ditemui di grup WA kantor. Biasanya dia aktif membaca namun pasif merespons, tidak pernah memberi acknowledgment, dan seperti pahlawan kesiangan yang baru muncul saat sudah terlambat
Bisa jadi dia melakukan perilaku itu untuk menghindari tanggung jawab, menganggap bukan prioritas atau budaya kerja yang longgar.
Cara menghadapi menghadapinya, gunakan tagging dan batas waktu, misal:
- “@Nama, mohon konfirmasi sebelum jam 15.00 agar bisa kami lanjutkan.”
Jika masih pasif:
- “Jika tidak ada respons, kami anggap setuju ya.”
Prinsip: buat konsekuensi yang eksplisit.
Pada intinya, menghadapi micro behaviour ini harus mengubah interaksi menjadi jelas, terstuktur, dan tidak ambigu. ***
Artikel Terkait
Yang Bisa Dilakukan Pelamar untuk Mencegah Di-ghosting Rekruter, Terakhir: Jangan Biasakan Overthinking
7 Tanda Perilaku Pasif-Agresif yang Sering Tak Disadari di Tempat Kerja, Bagaimana Cara Menghadapinya?
4 Gaya Komunikasi yang Perlu Kamu Kenali agar Selalu Nyambung dan Kerja Sama Tim Makin Lancar
Rahasia Mengajukan Pertanyaan yang Tepat di Tempat Kerja, Termasuk saat Rapat dan Negosiasi
Tantangan di Tempat Kerja Multigenerasi, Ketika Gaya Komunikasi dan Ekspektasi Jadi Penghalang