Apa Arti 'Rage Bait', Word of the Year 2025 Pilihan Oxford yang Jadi Strategi Konten

photo author
Felicitas Harmandini, Pejuang Kantoran
- Jumat, 3 April 2026 | 19:59 WIB
Oxford University Press memilih "rage bait" sebagai Word of the Year 2025. (Wikipedia/Jonas M)
Oxford University Press memilih "rage bait" sebagai Word of the Year 2025. (Wikipedia/Jonas M)

Waktu itu, istilah ini dipakai untuk menggambarkan reaksi seorang pengemudi saat berulang kali diberi lampu dim oleh pengendara lain yang mau menyalip.

Meski sudah 23 tahun berlalu, intinya tetap sama. Itu gangguan yang sengaja dibuat untuk memicu reaksi negatif.

Dari iseng jadi industri

Sekarang, rage bait sudah jadi bahan bakar bagi banyak kreator bahkan jaringan media besar. Karena kemarahan ternyata efektif banget buat mendulang klik, muncul praktik yang lebih ekstrem yang disebut "rage-farming".

Strateginya bukan cuma sekali posting, tapi upaya sistematis untuk memanipulasi emosi orang dengan menyebarkan misinformasi atau teori konspirasi secara terus-menerus.

Baca Juga: Sekarang Kamu Bisa Mengubah Nama pada Alamat Gmail tanpa Kehilangan Akses ke Inbox Lama

Casper Grathwohl, Presiden Oxford Languages, menilai populernya istilah ini adalah cerminan dari kegelisahan kita di tahun 2025. Kita jadi sering bertanya-tanya, siapa diri kita sebenarnya saat berada di depan layar.

“Fakta bahwa kata rage bait itu ada dan mengalami lonjakan penggunaan yang drastis berarti kita semakin sadar akan taktik manipulasi yang bisa menjebak kita di dunia maya,” ujar Grathwohl.

Dulu, internet mungkin cuma berusaha mencuri perhatian kita lewat rasa penasaran supaya kita mau mengeklik sesuatu. Tapi sekarang, polanya sudah berubah menjadi pembajakan emosi. Kita tidak lagi diajak untuk sekadar tahu, tapi dipaksa untuk merasa marah.

Dengan terpilihnya rage bait sebagai kata tahun ini, harapannya kita jadi lebih sadar saat jempol sudah siap untuk "menyerang" sebuah postingan. Kadang, respons terbaik untuk konten yang menyebalkan bukanlah komentar panjang lebar, melainkan cukup melewatinya begitu saja.

Jangan biarkan emosi kita jadi ladang keuntungan bagi orang lain.

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizinĀ redaksi.

Editor: Felicitas Harmandini

Sumber: Today

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

X