Apa yang Menjadi Pemicu 'Conscious Quitting' di Kalangan Karyawan yang Setia Sekalipun?

photo author
Felicitas Harmandini, Pejuang Kantoran
- Senin, 29 Juni 2026 | 12:01 WIB
Ilustrasi: Sekarang muncul fenomena baru yang disebut conscious quitting. Apa bedanya dengan quiet quitting? (Freepik/Rawpixel)
Ilustrasi: Sekarang muncul fenomena baru yang disebut conscious quitting. Apa bedanya dengan quiet quitting? (Freepik/Rawpixel)

PejuangKantoran.com - Belakangan ini, makin banyak istilah seputar dunia kerja yang berseliweran di media sosial. Setelah sempat ramai tren quiet quitting, quiet firing, dan quiet promotion, sekarang muncul fenomena baru yang disebut conscious quitting.

Sederhananya, istilah ini merujuk pada karyawan yang dengan sadar memutuskan untuk resign karena merasa perusahaan sudah nggak sejalan lagi dengan nilai pribadi, tujuan karier, atau kesehatan mental mereka.

Kesannya nggak ada bedanya ya, dengan resign pada umumnya. Tapi conscious quitting itu sebenarnya bukan cuma masalah bosan sama pekerjaannya, atau nggak cocok dengan budaya kerjanya.

Baca Juga: Tinggalkan Profesi Guru Bahasa Jepang, Mahatmi Rismartanti Mantap Jadi Sopir Bus di Prefektur Kanagawa

Masalahnya lebih karena ketidakpuasan terhadap budaya kerja perusahaan, gaya kepemimpinan, dan visi misi tempat mereka bekerja. Tren ini kabarnya paling banyak terjadi di kalangan Gen Z. Meski begitu, generasi lain pun mulai menunjukkan pergeseran prioritas yang sama

Zaman sekarang, orang-orang ingin waktu dan energi yang mereka gunakan di kantor jadi lebih bermakna. Karyawan mulai kritis memperhatikan gimana sebuah perusahaan menyikapi isu lingkungan, keberagaman, kesetaraan di tempat kerja, sampai etika bisnisnya.

Nilai-nilai internal inilah yang sekarang jadi penentu utama apakah sebuah perusahaan layak dipertahankan atau nggak.

Transparansi nggak bisa lagi cuma jadi janji manis

Perubahan pola pikir ini tidak terjadi begitu saja. Pandemi beberapa tahun lalu terbukti jadi pemicu terbesar. Ketika menghabiskan banyak waktu di rumah, kita jadi banyak melakukan refleksi tentang kualitas hidup kita.

Banyak yang mulai mempertanyakan kembali apakah karier yang mereka jalani saat ini benar-benar mencerminkan prinsip hidup mereka sehari-hari.

Baca Juga: Lowongan Kerja Financial Planning & Analysis (FP&A) Senior Manager (Mandarin Speaker) di Aice Group

Ditambah lagi dengan situasi ekonomi dan sosial di lingkup global yang penuh ketidakpastian, dorongan untuk punya pekerjaan yang berdampak positif buat masyarakat makin menguat.

Faktor lain yang membuat tren conscious quitting makin masif adalah keterbukaan informasi. Dulu, perusahaan mungkin bisa dengan gampang mengontrol citra publik mereka lewat kampanye yang rapi.

Sekarang, berkat media sosial dan berbagai platform ulasan kerja, pelamar bisa dengan mudah mengintip sisi negatif atau budaya asli sebuah kantor langsung dari pengalaman mantan karyawannya.

Karyawan zaman sekarang bakal cepat menyadari kalau ada jarak antara janji manis saat rekrutmen dengan kenyataan di lapangan. Visi soal keberagaman atau kepedulian lingkungan nggak ada artinya kalau keputusan harian manajemennya bertolak belakang.

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Editor: Felicitas Harmandini

Sumber: NDTV

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

X