Apa Itu Ghost Jobs? Fenomena Lowongan Kerja "Hantu" yang Kini Jadi Sorotan

photo author
Christina A.S, Pejuang Kantoran
- Jumat, 31 Juli 2026 | 13:59 WIB
Ilustrasi: Satu dari tiga lowongan kerja ternyata palsu! (Freepik/Rawpixel)
Ilustrasi: Satu dari tiga lowongan kerja ternyata palsu! (Freepik/Rawpixel)

PejuangKantoran.com - Di tengah persaingan mencari kerja yang semakin ketat, muncul istilah yang belakangan semakin sering dibicarakan, yakni ghost jobs. Istilah ini merujuk pada lowongan pekerjaan yang dipublikasikan perusahaan, tetapi sebenarnya tidak sedang aktif merekrut atau bahkan tidak memiliki rencana untuk segera mengisi posisi tersebut.

Fenomena ini kembali menjadi sorotan setelah Jaksa Agung Texas, Ken Paxton, membuka penyelidikan terhadap LinkedIn atas dugaan menampilkan lowongan kerja yang tidak aktif atau menyesatkan (ghost jobs) sambil mempromosikan layanan berbayar Premium kepada pencari kerja. Hingga kini, penyelidikan masih berlangsung dan belum ada bukti bahwa LinkedIn melakukan pelanggaran hukum.

Baca Juga: Lowongan Magang di Solutions Architect, APJ Early Career Talent dari PT Amazon Web Services

Apa sebenarnya ghost jobs?

Secara sederhana, ghost jobs adalah iklan lowongan kerja yang tetap dipublikasikan meski perusahaan tidak benar-benar membuka proses rekrutmen. Dalam beberapa kasus, posisi tersebut sebenarnya sudah terisi, perekrutan sedang dihentikan, atau perusahaan memang belum berniat merekrut siapa pun.

Akibatnya, pencari kerja menghabiskan waktu untuk menyusun CV, menulis surat lamaran, hingga mengikuti proses seleksi awal tanpa pernah mendapat respons.

Mengapa perusahaan memasang ghost jobs?

Praktik ini tidak selalu dilakukan dengan tujuan menipu. Berdasarkan berbagai penelitian dan laporan industri, ada beberapa alasan mengapa perusahaan tetap memasang lowongan meski belum benar-benar merekrut.

Salah satunya adalah membangun talent pool, yaitu mengumpulkan kandidat potensial yang dapat dihubungi sewaktu-waktu ketika posisi benar-benar tersedia.

Ada pula perusahaan yang ingin mengukur kondisi pasar tenaga kerja, misalnya melihat jumlah pelamar, kisaran gaji yang diharapkan kandidat, atau keterampilan yang sedang banyak dimiliki pencari kerja.

Sebagian perusahaan juga mempertahankan iklan lowongan untuk menunjukkan bahwa bisnis mereka terus berkembang atau karena proses administrasi yang membuat lowongan belum segera ditutup setelah posisi terisi.

Baca Juga: WhatsApp Web Akhirnya Bisa Dipakai untuk Terima Telepon dan Video Call melalui Laptop

Mengapa praktik ini dipermasalahkan?

Masalah muncul ketika lowongan tersebut tetap ditampilkan tanpa penjelasan bahwa perekrutan tidak sedang berlangsung. Kondisi ini dinilai dapat merugikan pencari kerja yang menginvestasikan waktu, tenaga, bahkan biaya untuk melamar pekerjaan yang peluangnya nyaris tidak ada.

Penelitian yang dipublikasikan di arXiv pada 2024 memperkirakan sekitar 21 persen lowongan pekerjaan berpotensi termasuk kategori ghost jobs, meski angkanya berbeda-beda di setiap industri. Penelitian tersebut juga menyebut praktik ini dapat memicu job search fatigue, yaitu kelelahan psikologis akibat terus melamar pekerjaan tanpa memperoleh kepastian.

Selain itu, survei dari Greenhouse pada 2024 menemukan bahwa sekitar tiga dari lima perusahaan mengaku pernah mempertahankan lowongan yang sebenarnya tidak sedang aktif direkrut, dengan alasan membangun cadangan kandidat atau mengantisipasi kebutuhan tenaga kerja di masa depan.

Baca Juga: Karyawan Baru Nggak Perlu Takut Sama AI, Kini Bisa Akselerasi Karier Kamu

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizinĀ redaksi.

Editor: Christina A.S

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

X