Dalam beberapa kasus, multitasking dianggap membuatmu lebih terganggu dan dapat memperburuk stres. Bahkan multitasking media disebut memiliki dampak yang lebih buruk.
Suatu studi yang diterbitkan di Nature menemukan bahwa mengirim SMS, menonton TV, dan menggulir Instagram secara bersamaan, dapat mengganggu kemampuan untuk memperhatikan dan memengaruhi ingatan.
Tingkat multitasking media yang lebih tinggi juga dapat memengaruhi bagian otak yang terkait dengan empati, kontrol impuls, dan pengambilan keputusan, menurut sebuah studi di 2014.
Inilah yang disebut “biaya pengalihan tugas” atau dampak negatif peralihan antartugas. Dampak ini muncul karena tindakan peralihan itu sendiri dikaitkan dengan tuntutan mental yang meningkat.
Namun, sebenarnya ada juga manfaat multitasking.
Ada skenario yang menyebut bahwa pengalihan tugas dengan cepat sebenarnya dapat meningkatkan pikiran, bukan menghambat.
Baca Juga: Tips Agar Lebih Fokus dan Tak Mudah Terdistraksi saat Kerja, Biar Hasilnya Lebih Maksimal
Dengan melompat di antara tugas, kamu disebut dapat "menginkubasi" masalah yang membuatmu terjebak dan membuka kuncinya saat tidak melihatnya secara langsung.
Tentu saja, jika salah satu tugas bisa dilakukan "tanpa berpikir" (seperti mendengarkan musik sambil berlari atau menandai daftar pekerjaan), justru bisa menjadi motivasi.
Dari semua penelitian tentang bagaimana multitasking memengaruhi pemahaman, tidak ada yang menunjukkan dampak yang dapat diamati pada kemampuan orang untuk memahami apa yang dibacanya.
Bahkan ada beberapa bukti muncul bahwa multitasking dapat meningkatkan aktivitas mental dan akhirnya dapat meningkatkan kreativitas.
Jadi, berhati-hatilah saat melakukan multitasking.
Hal penting saat melakukan multitasking sini adalah konteks saat kamu melakukan banyak tugas. Ini bisa menjadi perilaku strategis untuk membantumu mencapai tujuan atau bisa juga merupakan kegagalan pengaturan diri.
Seperti pendapat akademisi Agnieszka Popławska, Ewa Szumowska, dan Jakub Kuś, "Orang melakukan multitasking untuk mencapai tujuan profesional dan akademiknya, tetapi mereka juga melakukannya untuk menghindari kebosanan, memenuhi kebutuhan akan kontak sosial, atau untuk merasa lebih rajin."
Jadi, jika menjalin pertemanan lebih penting bagimu daripada email kantor pada saat tertentu, siapa bilang multitasking dengan mengobrol sambil membuat draft email tidak produktif?
Artikel Terkait
Contoh Email dalam Bahasa Indonesia untuk Membalas Undangan Wawancara Kerja
Ini Tantangan Wregas Bhanuteja untuk Prilly Latuconsina Saat Bermain di Film Budi Pekerti
Usai Terapkan Strategi Marketing Baru di Perusahaan, Dell PHK Karyawannya
Jaga-jaga, Ini Syarat dan Cara Daftar Seleksi CASN 2023 yang Bakal Dibuka September 2023
Waspada, Covid Belum Lenyap! Varian Baru Covid-19 “Eris” Sudah Masuk ke Indonesia
Berkat Konser Suga BTS, Keuntungan Hybe pada Paruh Pertama 2023 Mencapai 1 Triliun Won!